05 Desember 2008

Dari Haji Menuju Pemilu 2009

Oleh : Endin Saefuddin

Kewajiban dan panggilan Allah SWT bagi umat Islam yang telah mampu melaksanakannya (istitho'a), (QS Ali Imron : 97), yaitu ibadah haji. Ibadah haji memiliki makna multiaspek, ritual, individual, politik psikologis juga sosial. Syarat dan rukun dalam ibadah haji tidak hanya untuk kepentingan transendental (antara manusia dengan Allah) tetapi yang paling penting adalah dijadikan pelajaran para pelakunya untuk membentuk kepribadian atau moralitas.
Dengan demikian, memahami dan menemukan makna sosial dalam ibadah haji menjadi suatu keniscayaan bagi setiap umat Islam umumnya dan para jemaah haji khususnya. Setiap pelaku haji melakukan amalan-amalan pada waktu dan tempat-tempat tertentu yang sudah diatur langsung.
Memahami makna haji, dalam konteks ini membutuhkan pemahaman secara khusus. Dr. Ali Syari’ati dalam bukunya (Makna Haji : 2007) mengatakan, kepulangan manusia kepada Allah yang mutlak, yang tidak memiliki keterbatasan dan yang tidak diserupai oleh sesuatu apapun. Kepulangan kepada Allah merupakan gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai dan fakta-fakta.
Makna tersebut dipraktikkan dalam pelaksanaan ibadah haji, baik ritual atau dalam tuntunan non-ritualnya. Dalam bentuk kewajiban atau larangan, secara nyata atau simbolik. Pada akhirnya mengantarkan seorang haji hidup dengan pengamalan dan pengalaman kemanusiaan universal.
Dalam niat misalnya, mengenakan pakaian ihram yang bermakna melepaskan dan membebaskan diri dari lambang material dan ikatan kemanusiaan, Mengkosongkan diri dari mentalitas keduniawiaan, membersihkan diri dari nafsu serakah manusia. kesombongan serta kesewenang-wenangan. Dalam ihram semua pakaian seragam, sama, tidak ada lagi status sosial yang melekat pada diri masing-masing. Sebab pakaian melambangkan pola, preferensi, status dan perbedaan-perbedaan tertentu. Sehingga perbedaan dan pembedaan tersebut harus ditanggalkan. Di Miqat ini, apapun ras, suku, adat dari kelompok mana dia berasal semuanya ditanggalkan. Hingga semua merasa dalam satu kesatuan.
Thowaf, mengandung isyarat keluar dari lingkungan manusia yang buas masuk ke dalam lingkungan Rabbaniyah yang penuh kasih sayang, saling menghargai dan menghormati. Sa'i, mengandung isyarat kesediaan menjalankan tugas dan tanggung jawab (berjalan) bagi jemaah haji ke arah hal-hal yang positif dan bermanfaat untuk dirinya dan orang lain. Juga makna dalam Tahallul, (Al-hulqu, yaitu memotong rambut) sebagai isyarat pembersihan, penghapusan cara berfikir yang kotor (negatif).
Jemaah haji yang telah menjalankan tahallul mesti harus memiliki cara pikir, konsep kehidupan yang baik, positif, tidak keluar dari etika, aturan maupun ajaran agama. Substansinya adalah ibadah haji diperuntukkan bagi sesama manusia dengan cara selalu menjaga, menghormati, serta saling menjunjung tinggi kemanusiaan. Mengajarkan kepada umat agar senantiasa merubah pikiran, sikap serta perilaku yang lebih bermanfaat untuk sesama.
Sehingga dari semua itu diharapkan akan membawa hal positif bagi kehidupan yaitu bersikap wara', membendung dirinya melakukan yang diharamkan, sikap sabar, dan bersikap baik sesama manusia. (kitab Ruhul Bayan Jilid II). Ketiga sifat inilah menjadi kunci keberhasilan haji seseorang.
Haji dan pemilu 2009
April 2009 rakyat Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi. Hajat yang diadakan lima tahun sekali ini, tidak jarang membuat semua kontestan pemilu (parpol) saling menyerang, melemahkan, bahkan memfitnah lawan-lawannya. Dengan tujuan untuk kemenangan, bagaimana dan apapun caranya. Rakyat dibanjiri janji-janji manis para kontestan, atas nama rakyat dan perubahan. Apalagi saat ini peserta pemilu (Parpol) begitu banyak, sehingga membutuhkan kerja ekstra partai guna merekrut simpati sebanyak–banyaknya. Iklan-iklan pun mulai bertebaran dimana-mana.
Dalam momentum haji ini, diharapkan parpol tetap berpegang pada etika, aturan peramainan demi kemaslahatan bersama. Menjaga persatuan dan kesatuan dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika. Dari sinilah para parpol dapat mengambil pelajaran penting dari makna haji sepeprti disebutkan diatas.
Pertama yaitu tujuan atau niat, parpol yang didalamnya terdapat para calon legislatif dituntut untuk memantapkan niat dan tujuannya yang positif.. Mengedepankan persatuan dan kesatuan sebagai bangsa. Meninggalakan dari mana dia berasal, kelompok, ataupun baju politik yang dia pakai. Ketika duduk sebagai dewan, baju yang dia pakai adalah baju Indonesia satu.
Kedua, kontestan pemilu, mampu belajar dari makna Thowaf dalam haji. Yaitu saling menghormati dan menghargai. Tidak saling menghantam atau melemahkan, menghalalkan segala cara demi tujuan pribadi atau kelompok. Maka demokratis harus menjadi landasan didalamnya. Ketiga, belajar dari sa'i, yaitu setelah dia berhasil dalam pemilu. Parpol dituntut menunjung tinggi tanggung jawabnya dalam menjalankan amanah yang diberikan. Mengedepankan manfaat, kemaslahatan dan kebaikan bersama.
Keempat, parpol juga harus mampu meninggalkan cara-cara politik yang keluar dari etika atau norma-norma politik. Seandainya nanti kalah, diapun harus bisa menerima dengan lapang dada dan kesatria, mengakui dan mendukung siapapun yang berhasil. Menghilangkan konflik-konflik dan rasa dendam yang dilewati selama proses pemilu berlangsung. Seperti yang terdapat dalam makna Tahallul dalam haji, yaitu mencukur rambut seperti dijelakan diatas.
Ketika makna haji diatas, dapat diterapkan dalam pemilu nanti, bukan tidak mungkin pemilu akan berjalan dengan damai, demokratis, bersih dan jujur. Sebab semua itu dijalankan dengan kesabaran, keihklasan, dan kesucian tujuan serta dengan penuh tanggung jawab. Berpegang pada kesatuan persatuan, demokrasi, saling menghargai dan menghormati segala perbedaan yang ada.
Dengan demikian, pemilu bisa dikatakan berhasil dan sukses. Tapi jika sebaliknya, pemilu dirasa gagal dan cacat dan hanya akan mengotori cita-cita dari pemilu itu sendiri. Inilah kenapa dalam haji harus ditanamkan sifat wara', sabar dan berbuat baik kepada sesama, sebagai nilai universal kemanusiaan. Jika haji itu ingin diraih dengan sempurna. Semoga momentum haji kali ini dapat dijadikan pelajaran dan diambil hikmahnya menuju pemilu 2009 yang adil dan demokrasi.