
Bulan Ramadhan adalah bulan diwajibkannya umat Islam untuk melaksanakan ibadah puasa. Dibulan ini umat Islam dilarang makan, minum, dan hal lain yang bisa membatalkan puasa, seperti yang sudah ditentukan oleh syari'at, sampai matahari terbenam. "Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam (matahair terbenam)" (al-Baqoroh: 187).
Allah SWT. Pada bulan puasa seakan sedang mengobral pahala untuk hambanya. Bagaimana tidak, amal soleh yang dilakukan dibulan suci ini dibalas dengan berlipat ganda, satu kebaikan dibalas sepuluh kebaikan, sepuluh kebaikan dibalas seratus kebaikan (pahala) dan seterusnuya. Maka wajar bila bulan Ramadan dikatakan lebih baik dari seribu bulan. Puasa sendiri tidak disebutkan berapa jumlah pahala yang diberikan kepada yang melaksanakannya, tetapi hanya Allah yang tahu. Inilah menjadi keutamaan tersendiri. Sedang hikmah dan tujuannya dijelaskan dalam al-Qur'an, yaitu untuk menjadi manusia yang taqwa (al-Baqoroh: 183).
Setiap tiba waktunya, umat Islam khususnya Indonesia beramai-ramai menyambutnya, berbagai macam cara orang menghormati bulan suci ini, semuanya berlomba-lomba menyemarakkan bulan Ramadhan. Baik dengan cara berbagi makanan buka puasa, bakti sosial, menyantuni yatim piatu, fakir miskin dan lain-lain.
Ramadhan juga menjadi obyek berita penting media setiap hari, populer seperti selebritis ataupun politikus. Coba kita lihat, Program-program televisi menyuguhkan tayangan-tayangan spesial khusus dibulan ini, dari acara sinetron, hiburan, kuis, dari mulai berbuka sampai acara sahur. Itulah semarak Ramadan yang bisa kita saksikan dalam gempitanya sebagai tamu agung.
Esensi puasa
Dalam puasa terkandung esensi penting didalamnya yaitu "pengendalian diri". Manusia dididik untuk menahan hasrat-hasratnya disiang hari, puasa juga mengajarkan kita untuk bersikap sabar, jujur, toleran, dan menumbuhkan sikap sosial yang tinggi. Maka saya mengibaratkan bulan Ramadan seperti sebuah lembaga pendidikan bernama universitas, puasa dan amal-amal soleh seperti tadarus, i'tikaf, tarawih sebagai mata kuliah inti yang harus ditempuh. Dengan visi misi utamanya adalah membentuk manusia yang bertaqwa. Dan syarat memasuki universitas ini yaitu dengan pengendalian diri.
Sehingga diharapkan lulusan dari lembaga ini (Ramadan) mampu menjadi manusia utama, sebab hakikat puasa adalah penumbuhaktualan manusia malaikat, seseorang yang mampu melebur ego personal kedalam superego yang trans-human dan lebih suci (Munir Mulkhan), atau aufgehoben dalam istilah Hegel. Manusia seperti ini akan mampu melakukan kebajikan-kabajikan dalam hidupnya, ikut susah melihat orang lain susah, senang melihat orang lain bahagia. Selalu berbagi kabahagiaan bukan kesedihan, berbudi luhur dan penuh keikhlasan. Selalu perihatin dan penuh kesederhanaan, dalam sufi disebut dengan wara' atau wira'i.
Pencapaian seperti ini tidaklah gampang dan mudah, perlu perjuangan dan ketulusan dalam menjalaninya. Sebab dalam diri manusia terdapat hawa nafsu yang selalu membawa keburukan dan kehinaan, hawa nafsu ini selalu menggoda dan meng-iming-imingi kenikmatan sesaat. Dengan sifat keangkuhan dan kesombongannya. Tentang hawa nafsu ini seorang sufi bernama jalaludin rumi berkata "Hawa nafsu adalah ibu semua berhala, dari sini setiap saat bermunculan tipu muslihat, dan dari setiap tipu muslihat seratus fir'aun dan bala tentaranya terjerumus". Dan ketika Nabi selesai berperang dan memenangkan peperangan itu, kemudian bersabda kepada umatnya, masih ada perang yang lebih besar lagi dari perang ini yaitu melawan hawa nafsu.
Dalam hal ini, itulah mengapa al Qur'an menyerukan puasa kepada orang-orang beriman, itu artinya dengan imanlah manusia dapat mengatasi dan tidak terjerumus kedalam rayuan hawa nafsu. Orang-orang yang beriman dapat mengetahui bahwa kebenaran dari Rabb mereka (al-Baqoroh: 26) bukan dari siapa-siapa terlebih syaitan ataupun hawa nafsu. Anselmus Carterbury (1033-1109) beraliran skolastik berkata "aku beriman supaya aku mengerti". Dengan demikian, godaan kemegahan duniawi (fisik) akan mampu dilawannya.
Dan iman hanya dapat dicapai dengan kekuatan spiritual (sifat ilahiyah). Spiritual dapat diraih dengan adanya latihan-latihan dan ujian, seperti puasa yang dijalani sekarang ini. Latihan perihatin, berbagi kesedihan, juga kekurangan. Puasa juga sebagai ujian, pada siang hari semua makanan atau minuman dilarang walaupun itu halal, padahal manusia cenderung dalam kepuasan dan kenikmatan. Sebagai kebutuhan yang tidak terlepaskan dalam diri yang bernama makhluk.
Ketika manusia mampu melewati ujian tersebut bukan hal mustahil pencapain spiritual akan terwujud. Menjadi sebuah sikap jiwa yang suci dan mulia. Yaitu sikap jiwa yang menta'ati, patuh, berserah diri, memusatkan segala pengabdian hanya kepada Allah sang kholiq, hidup dan mati semata-mata kepada-Nya. Sikap jiwa ini juga, akan menjadi landasan dalam setiap berfikir, berbicara dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Inilah pencapaian tertinggi seorang hamba menjadi manusia suci laksana malaikat. Mampu memanifestasikan sifat ketuhanan dalam kehidupannya, mengasihi sesama, peduli dengan penderitaan orang lain, penyayang dan lain-lain.
Namun persolannya sekarang adalah mampukah bulan Ramadhan sebagai proses spiritual guna mencapai keimanan dalam bentuk ketundukan dan pengabdian kepada sang Kholiq ini, dapat dihayati, dimengerti dan diamalkan? Adakah ketulusan dan keikhlasan serta kesadaran dalam melakukannya, serta dalam amal-amal kebaikan didalamnya? Mari tanyakan kembali kepada hati nurani kita masing-masing.
Sehingga pertapaan kita selama satu bulan penuh, dapat meraih kekuatan spiritual (ruhani) sebagai perisai dan bekal kita dalam menjalani kehidupan sebelas bulan mendatang. Dengan begitu manusia seperti ini ibarat baru dilahirkan (suci). Artinya meraih kemenangan dihari yang fitri. Dan kemenangan ini dicapai hanuya dengan jalan keihlasan, kesadaran dan ketulusan bukan kepalsuan. Sebab, Ramadan bukanlah panggung sandiwara.


