22 November 2008

PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN

PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN
Membangun Jiwa Merdeka Mencapai Kemandirian Bangsa
Oleh : Endin Saefuddin

Pada saat suara tidak lagi terdengar, ketika kemerdekaannya (kritisisme) telah dibungkam dan dipasung, daya nalar individu telah disekat oleh sumbat-sumbat ketakutan! manakala bahasa anak-anak dan rajutan makna telah dibonsai oleh monopoli kebenaran dan kapitalisme. Serta ketika kreatifitas dibelenggu oleh kemiskinan.
Maka peran pendidikan sebagai pembebasan jiwa individu terhadap keterasingan. Untuk membangun pencerahan dan pemerdekaan terhadap persoalan sosial masyarakat dan mentalitas individu. Sehingga mampu melihat kendala-kendala mitologi dan mentalitas sebagai akar-akar ketidakbebasan akibat kebodohan dan pembodohan.
Ketertinggalan dan kemiskinan melanda sebagian besar rakyat Indonesia. Realitas ini menjadi bukti konkrit belum maksimalnya peran dan fungsi pendidikan nasional sebagai pembebasan dan pencerahan. Dalam kontek inilah menjadi soal yang harus dijawab oleh stakeholder pendidikan guna menciptakan manusia Indonesia yang berkualitas. Agar mampu keluar dari penjara kemiskinan, yang seakan menjadi borgol abadi rakyat. Sehingga kemerdekaan dalam arti (zelfstanding, berdiri sendiri onafhankelijk, tidak tergantung kepada orang lain dan vrijheid zelfbeschikking dapat mengatur dirinya sendiri, Ki Hajar Dewantara) dapat terwujud.


Pendidikan memerdekakan
Anak-anak bangsa tidak mungkin mampu memerdekakan diri ketika jiwa mereka masih dipenjara dan dibelenggu oleh sebuah sistem yang memaksa. Keadaan ini sulit bagi mereka untuk mengembangkan potensi, malah justru membunuh kreatifitas. Sistem seperti ini akan mengikat dan menghalangi perkembangan sebagai individu yang bebas, dalam menentukan dirinya sendiri dan tidak produktif.
Bukankah semakin besar anak tumbuh maka semakin besar pada dirinya suatu pencarian akan kebebasan dan kemandirian? Kebebasan dengan makna yang berbeda sebelum evolusi tercapai. Artinya bukan kebebasan membati buta tanpa aturan dan norma. Tetapi kebebasan seperti bayi keluar dari ibunya berubah menjadi eksistensi manusia. Keterpisahan ini hanya lahiriyah saja. Namun secara fungsional bayi tetap bagian dari ibunya, ia disuapi, disusui dan di lengkapi setiap kebutuhan oleh ibunya.
Sifat dialektis dalam proses perkembangan anak, dalam istilah Erich fromm disebut individuation, (proses munculnya individu yang terikat erat dengan dunia alamiah dan sosial dimana dia berada) diantaranya mengandung aspek tumbuh kuat secara fisik, emosional, dan mental. Dari ketiga bidang tersebut akan tumbuh intelektualitas dan aktifitas.
Dengan begitu, tugas penting pendidikan nasional adalah mendidik anak bangsa agar tumbuh jiwa merdekanya, mampu memahami karakter dan realitas kehidupamya. Dengan sifat mengayomi dan melindungi. Pengajaran disusun sebagai stimulus untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan kemampuan yang dimiliki. Langkah ini akan berimplikasi pada kematangan intelektual dan aktifitas yang mandiri, sehingga tumbuh jiwa merdeka dalam kehidupannya.
Apabila kepribadian diri yang dimiliki yaitu intelektualitas, kreatifitas dan potensi mandiri dapat terorganisir dan terintegrasikan, bukan sesutu yang mustahil hasil pengajaran yang dilakaukan akan mengahasilkan manusia-manusia yang berkualitas, respon terhadap masalah dan mampu menghadapi setiap problematika yang mengelilinginya. Maka proses individuasi ini harus dibarengi dengan pendidikan, tapi pendidikan yang memerdekakan.
Pertanyaaannya sekarang adalah mampukah para stakeholder pendidikan menciptakan pendidikan nasioanal yang berlandaskan pada kebebasan dan karekteristik bangsa guna menjadi bangsa yang besar dan mandiri? sebab penerapan pendidikan nasional cenderung memaksakan dan membelenggu, membunuh kemerdekaan baik jiwa juga dirinya. Bertentangan dengan nilai-nilai positif kebebasan sebagai makhluk sosial dan independent.
Bukankah pembangunan jiwa yang tanpa kekerasan, kungkungan dan pemaksaan. Melahirkan generasi muda penerus peradaban bangsa yang beradab berjiwa jujur dan bertanggung jawab? Pendidikan yang berlandaskan kemerdekaan juga mampu menciptakan manusia yang berdiri sendiri tanpa tergantung dengan orang lain. Menghasilkan sumber daya manusia yang tangguh. Dengan begitu akan tercipta masyarakat dan bangsa yang mandiri. disinilah pendidikan memerdekakan menjadi sebuah keharusan. untuk membangun bangsa yang merdeka harus melalui jiwa-jiwa yang merdeka pula.

WANITA PUNCAK LIBIDO KETUHANAN

Resensi
Judul : Melihat Tuhan Dalam Diri Wanita
Penulis : Muahmmad Roy, M.Ag
Peresensi : Endin Saefudin
Tebal : 208 halaman
Penerbit : Pondok Pesantren UII Yogyakarta
Terbit : Mei 2007

WANITA PUNCAK LIBIDO KETUHANAN
Oleh : Endin Saefuddin

Sepanjang sejarah kaum wanita tidak pernah surut dari perbincangan umat manusia. Dan yang paling istimewa lagi ternyata kaum wanita bukan saja menjadi perbincangan manusia namun Tuhan pun ikut memperbincangkannya. Berbicara tentang. Ada dua nama surah dari al Qur’an yang diberi nama dengan wanita yaitu surah al Nisa’ yang biasa disebut dengan surah perempuan besar (al-Nisa’ al Qubra) dan surah al-Talaq yang biasa disebut dengan surah perempuan kecil (al-Nisa’ al-Shugra). Disinilah terdapat sesuatu yang unik dan merupakan karakteristik tersendiri dalam diri wanita.
Karena karekteristik dan keunikannya, Muhammad Roy menulis buku dengan judul”Melihat Tuhan Dalam Diri Wanita”. Dalam bukunya ini ditulis, seorang wanita akan mampu mencerminkan esensi Tuhan di dunia, jiwanya laksana mutiara universal, tubuhnya mencerminkan arsy, pengetahuannya laksana samudra ilmu Tuhan, hatinya berhubungan dengan bait al-ma’mur, kemampuan mental spiritualnya berhubungan dengan malaikat, daya ingatnya laksana kecemerlangan saturnus, dan inteleknya bagaikan kekuatan yupiter.
Wanita karena kemulyaan dan kodratinya mampu membiaskan bayang-bayang Tuhan dalam alam nyata ini, sebagai miniatur semesta atau mikrokosmos (al-alam al-shoghir). Didalamnya tercermin bagian-bagian dari jagad raya (makrokosmos). Ar- Rumi menuliskan dalam syairnya ”Wanita adalah cahaya Tuhan, dia bukan kekasihmu tetapi adalah pencipta, pencipta yang tidak diciptakan untukmu semata” sebuah bentuk penegasan atas keagungan dan keistimewaan yang ada dalam diri wanita.
Diantara cara para sufi ahli ma’rifat dalam upaya meningkatkan derajat kewaliannya yaitu dengan mencintai dan menyayangi wanita (murata,2000: 249). Kenapa dengan cara tersebut, apakah wanita mempunyai sayap-sayap untuk menghantarkan manusia menuju Arsy Tuhan? Ataukah ia mempunyai keteduhan bak lautan yang menyimpan mutiara-mutiara spiritual didasarnya? Bukankah wanita selama ini di anggap sebagai jeratan syetan (haba’il al-syaithan), penggoda di dunia dan hanya sebagai pemuas nafsu atau sexs bagi kaum pria?
Teori insan al-kamil Ibnu Arabi, bahwa wanita merupakan cermin pantulan cahaya Tuhan yang paling sempurna di dunia, dan hanya ada satu realitas tunggal di jagad raya ini yaitu Allah, dan alam ini hanya sebagai wadah dari pantulan cahaya-Nya. Agar dikenal dan melihat citra diri-Nya melalui alam tersebut. Maka Tuhan memanifestasikan nama-nama dan sifat-sifatnya pada alam, sebagai perwujudan yang abadi. Sebab tanpa penciptaan alam ini senantiasa berada dalam bentuk potensialitasnya pada Dzat Tuhan dan tidak akan dikenal siapapun. Maka letak urgensi wujud alam sebagai wadah tajjali Ilahi, padanya tuhan melihat citra diri-Nya yang terbatas.
Akan tetapi alam yang serba ganda ini hanya mampu mencitrakan sedikit dari nama-nama dan sifat-sifat Tuhan, secara tidak utuh dan tidak sempurna. Namun Tuhan mampu melihat citra diri-Nya secara sempurna dan utuh melalui diri manusia. Dan sosok Insan al-Kamil yang paling sempurna adalah Muhammad putra Abdullah. Dan pada masa setelahnya yang cocok dan bisa mencerminkan nama dan sifat Tuhan adalah ”Wanita”. Jalaludin Rumi pun lebih memilih sosok wanita sebagai cermin bersih yang mampu memantulkan bias-bias Tuhan di dunia ini.
Secara kodrati wanita mempunyai kesamaan dengan Tuhan yaitu mencipta, keagungannya serta kelembutannya. Bahkan sebagai lokus pencipta manusia sempurna Muhammad SAW. Pencitraan Tuhan dalam diri wanita juga merupakan penyatuan antara sifat aktif Tuhan dalam mencipta dan berkreasi. Dalam istilah tao disebut Yang dengan sifat pasif wanita Yin. Adanya sifat Yin dan Yang, yaitu berupa keagungan Tuhan (Jalal) dan keindahan (jamal) dalam diri seorang wanita. Wanita mampu memancarkan sinar-sinar keindahan, dan sifat keindahan (jamaliyah) dan keagungan (jalaliyah) ini terkandung dalam diri Tuhan. artinya sifat jamaliyah Tuhan dititipkan pada sosok wanita.
Ketika wanita memang menjadi cermin Tuhan di dunia, maka syair yang didendangkan oleh Umar Ibnu Khattab dalam mengagungkan wanita menjadi sesuai dan tepat adanya, ia mengatakan: ”Wanita adalah ibarat bunga surga nan harum semerbak yang diciptakan untukmu, dan setiap kamu pasti senang mencium bunga surga tersebut”.
Selanjutnya buku hasil refleksi sufistik Muhammad Roy ini selain mencoba menguak esensi dibalik keindahan dan kodrati penciptaan wanita. Juga memberikan nasihat sikap manusia dalam menilai sesuatu jangan dari satu sisi saja tetapi dari sisi yang lain juga. Bukan hanya dilihat dari logika linier tetapi dari logika paradoksal juga. Melihat dengan mata Tuhan yang holistik dan integral.
Sebuah ”Tafakkur Hati” ditulis dalam sub judul diantaranya Dosa Barokah, Sang Murid Tuhan, dan Manusia Berjiwa Tuhan. Sedangkan sub judul ”kearifan”diantaranya Antara Hidayah Tuhan Dan Hidayah Syetan, dan Berguru Kebahagiaan Pada Sang Nabi Aristoteles. Disini penulis menampilkan dirinya manusia yag liar dan bebas dalam berfikir seakan ingin menantang dan menggugat Tuhan, namun ditampilkan dengan sosok seorang abid, salik, dan sufi yang meniti jalan ketuhanan.

INTEGRITAS ILMU KEISLAMAN DALAM MENGGAPAI KESUKSESAN SEJATI

INTEGRITAS ILMU KEISLAMAN
DALAM MENGGAPAI KESUKSESAN SEJATI
“Antara tasawuf dan syari’at”
Oleh : Endin Saefuddin

Tasawuf yang merupakan mistisisme mungkin tampak sangat tidak bersifat duniawi bagi sebagian besar umat manusia. banyak para sufi dimasa lalu yang sangat menekankan kehidupan batin dengan pencarian akan Tuhan yang terkadang mengabaikan hukum syari'at. Namun walau begitu kebutuhan akan nilai dan makna dalam hidup, perasaan bahwa harus ada sesuatu dibalaik fenomena yang kasatmata, sehingga banyak orang yang tetap mempertahankan keyakinannya dalam satu dan hal yang lain (H.J. Witteveen, Sufism in Action: Achievement, Inspiration and Integrity in a Tough World).
Tasawuf banyak definisi yang diberikan oleh para ulama, namun intinya adalah jalan atau cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Orang yang menempuh jalan ini dikenal dengan nama sufi, dan sufi menurut Dzunnun Al-mishri adalah orang yang lebih mengutamakan Allah SWT diatas segalanya.
Tasawuf yang orientasi keagamaan esoteris dengan karekteristik bertumpu pada pengalaman dan kesadaran ruhani pribadi, (lebih kepada hakikat). Golongan ini mengklaim diri sebagai pengetahuan keagamaan disebut Ma’rifah dan jalan menuju kebahagiaan disebut Thariqoh. (Par excelence) peran tasawuf dalam membimbing kearah hubungan normatif dan otoritatif yang istimewa antara individu dan kosmos.
Sedangkan syari'at adalah peraturan dan undang-undang yang bersumber kepada wahyu Allah. Perintah dan larangannya jelas dan dijalankan untuk kesejahteraan seluruh manusia. Menurut Syaikh al-Hayyiny, syari'at dijalankan berdasarkan taklif (beban dan tanggungjawab) yang dipikul kepada orang yang telah mampu memikul beban atau tanggungjawab (mukallaf). Syari'at ditunjukkan dalam bentuk kaifiyah lahiriyah antara manusia dengan Allah SWT.
Peraturan dan hukum Allah ini menjadi kewajiban umat Islam terutama yang berkaitan dengan ibadah mahdlah (yang berhubungan langsung dengan Allah SWT) Dalam Al-Qur’an difirmankan "Hanya kepada Engkau (Allah), aku beribadah, dan hanya kepada engkau aku memohon pertolongan." (QS. Al-Fâtihah: 4-5).
Dari penjelasan diatas, tidak heran dalam perkembangannya ahli sufi dan ahli syari'at banyak menimbulkan pertentangan, itu tidak lebih karena adanya perbedaan pemahaman dan pandangan tentang keilmuan keagamaan. Yang diantara keduanya sebenarnya sama-sama ingin mendekatkan diri kepada yang maha kuasa. Dan untuk memenuhi kewajibannya (ibadah) sebagai hamba Allah SWT.
Al-Qusyairi membedakan antara syari'at dan hakikat merupakan ciri dari orang sufi sebagai berikut: Hakikat adalah penyaksian manusia tentang rahasia-rahasia ketuhanan dengan mata hatinya. Syari'at adalah kepastian hukum dalam ubudiyah, sebagai kewajiban hamba kepada Al-Khaliq. Syari'at ditunjukkan dalam bentuk kaifiyah lahiriyah antara manusia dengan Allah SWT. Kita paham dengan ungkapan

”Ibarat bahtera itulah syari'at, Ibarat samudera itulah thariqat, Ibarat mutiara itulah haqiqat”
Ungkapan ini menjelaskan kedudukan tiga jalan menuju akhirat. Syari'at ibarat kapal, yakni sebagai instrumen mencapai tujuan. Thariqat ibarat lautan, sebagai wadah yang mengantar ke tempat tujuan. Hakikat ibarat mutiara yang sangat berharga dan banyak manfaatnya.
Artinya hakikat tanpa syari'at menjadi batal, dan syari'at tanpa hakikat menjadi kosong. Dapat dimisalkan di sini, bahwa apabila ada orang memerintahkan sahabatnya mendirikan shalat, maka ia akan menjawab: Mengapa harus shalat? Bukankah sejak zaman azali dia sudah ditetapkan takdirnya? Apabila ia telah ditetapkan sebagai orang yang beruntung, tentu ia akan masuk surga walaupun tidak shalat. Sebaliknya, apabila ia telah ditetapkan sebagai orang yang celaka maka, ia akan masuk neraka, walaupun mendirikan shalat.
Begitu juga halnya dengan syari'at tanpa hakikat, adalah sifat orang yang beramal hanya untuk memperoleh surga. Ini adalah syari'at yang kosong, walaupun ia yakin. Bagi orang ini ada atau tidak ada syari'at sama saja keadaannya, karena masuk surga itu adalah semata-mata anugerah Allah. Syari'at adalah peraturan Allah yang telah ditetapkan melalui wahyu, berupa perintah dan larangan. Thariqat adalah pelaksanaan dari peraturan dan hukum Allah (syari'at). Haqiqat adalah menyelami dan mendalami apa yang tersirat dan tersurat dalam syari'at, sebagai tugas menjalankan firman Allah.
”Barangsiapa yang ingin mendapatkan mutiara di dalam lautan, maka ia harus mengarungi lautan dengan menumpang kapal (ilmu syari'at), kemudian ia harus pula menyelam untuk mendapatkan perbendaharaan yang berada di kedalaman laut, yakni bernama mutiara (ilmu haqiqat)".
Sayyidina Ali RA, mengatakan: Barangsiapa beranggapan, tanpa adanya perbuatan yang sungguh-sungguh, ia akan masuk surga, maka itu adalah hayalan, sedangkan orang yang beranggapan bahwa dengan amal yang sungguh-sungguh dan bersusah payah ia akan masuk surga, maka hal itu sangat sia-sia. Orang pertama adalah mutamanni dan orang yang kedua adalah muta' anni.
Para penuntut ilmu tasawuf tidak akan mencapai kehidupan yang hakiki, kecuali telah menempuh tingkatan hidup ruhani yang tiga tersebut. Menuju kesempurnaan hidup ruhani dan jasmani yang hakiki menuju hidup akhirat yang sempurna, tiga jalan itu hendaklah ditempuh bersama-sama dan bertahap. Apabila tahap-tahap itu tidak ditempuh maka penuntut tasawuf atau mereka yang berminat mencari hidup ruhani yang tentram, tidak akan mendapatkan mutiara yang sangat mahal harganya itu. Dengan pengertian lain, hati manusia shufiyah itu akan ditempati oleh thariqat yang berdasarkan syari'at. Seperti apa yang menjadi ajaran tasawufnya Imam al-Ghazali.
dengan begitu, ditengah-tengah keadaan keislaman yang semakin komplek didalam kehidupan manusia Indonesia, yang tidak sedikit menimbulkan keresahan dan bahkan berbuat radikal demi menjaga kesucian kepercayaannya. Maka integritas dua keilmuan Islam yaitu tasawuf dan syari’at seperti dijelaskan diatas, diharapkan menjadi sebuah pemahaman keilmuan dalam menyikapi persoalan keagamaan selama ini. yang akhirnya dapat terhindarkan dari hal-hal yang sifatnya anarkis. Bahwa semua perbedaan pendapat itu sejatinya adalah hanya ingin mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan hidup baik di dunia ataupun akhirat.

GURU SEBAGAI FASILITATOR BUKAN DESTROYER

Memperingati hari guru
GURU SEBAGAI FASILITATOR BUKAN DESTROYER
Oleh : Endin Saefuddin

Perkembangan peradaban manusia yang disebut dengan modernisasi telah mengantarkan kita pada kehidupan sosial yang semakin luas dan bebas. Modernisasi dengan baju globalisasi tersebut merangsang masyarakat untuk hidup komsumtif, hedonis dan tidak jarang melakukan tindakan amoral. Dan yang lebih memprihatinkan lagi perubahan itu terjadi pada anak didik, yaitu dengan memudarnya moralitas. Diakui atau tidak tapi ini adalah realitas yang terjadi. Sehingga berimplikasi juga pada prilaku dan lingkungan belajar peserta anak didik.
Dengan situasi seperti ini, praktisi pendidikan khususnya guru perlu melakukan perubahan pola pikir dan pola tindak dalam melakukan pembelajaran. Sebagai juru penyelamat dari kondisi tersebut diatas. Hal ini mengingat bahwa guru merupakan aktor terpenting dalam pendidikan. Secara umum sifatnya adalah pendidik dan pengajar. Bertugas untuk menjadikan manusia tetap eksis dalam menjalankan kehidupannya, mampu menjadi khalifah Allah di bumi, dengan arti mampu mengelola, mengembangkan, dan melestarikan alam, mencapai kebahagiaan dunia juga akhirat. Seperti yang menjadi tujuan pokok pendidikan itu sendiri.
Disinilah guru berfungsi sebagai pembimbing dan pengarah. Sehingga dengan begitu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai, maka seorang guru sebagai faktor terpenting dalam pendidikan perlu dikonsep atau dirumuskan, baik sifat, sikap, kepribadian, serta wataknya. Hal ini guna mencapai guru yang ideal. Yaitu dengan menempatkan guru pada peran sebagai pencipta proses belajar yang sifatnya menjadi fasilitator (learning facilitator), bukan malah menjadi penghambat proses belajar (learning destroyer).
Secara pedagogis guru yang ideal mempunyai fungsi ganda, sebagai obyek (terdidik) dan subyek (pendidik). Kedua fungsi ini harus sama-sama aktif sehingga dengan begitu seorang guru dituntut berwatak kreatif, produktif dan inofatif. seorang guru juga dituntut menanamkan atau sosialisasi karakter atau kepribadian (syakhshiyiah), (Sahal Mahfudz :1994).
Untuk mencapai pendidikan yang sesuai dengan cita-cita, yaitu sebagai upaya peningkatan kualitas kemanusiaan, membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, memiliki keterampilan, pengetahuan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian mandiri serta bertanggung jawab. maka dalam hal ini, pendidikan dan pengajaran diperlukan adanya suatu perubahan atau pembenahan. Pendidikan dijadikan sebagai bentuk interaksi dari pendidik, peserta didik, dan lingkungan, guna membangun kualitas anak didik yang bersifat kognitif, afektif, dan psikomotorik. Yang dimulai dari pengajar (guru) sebagai aktor utama dalam pendidikan, seperti disebut diatas.
Secara teoritis hal ini dirasa mudah, tetapi dalam praksisnya ternyata sulit dilakukan. Sebab pada kenyataannya proses belajar (terutama disekolah) masih sekedar transfer ilmu bukan pencipta ilmu pengetahuan. Kita sering mendengar seorang pengajar bertanya sudah sampai mana materi(kurikulum) disampaikan ? bukan bertanya sejauh mana anak didik menguasai, memahami dan membangun materi? dari sini seakan-akan seorang pengajar hanya menyelesaikan materi yang ada dalam buku pelajaran dengan menafikan pemahaman dari seorang anak didik.
Dari hasil pengajaran model seperti ini, wajar ketika lulusannya kurang begitu mampu dalam menjawab setiap persoalan yang ada disekitarnya, sebab kurangnya kualitas SDM yang dihasilkan. Ketika demikian, dibutuhkan satu program yang mendinamisasi gagasan, ide baru dan perubahan secara tepat, yang terencana dan tertanam dalam suatu bingkai manajerial yang profesional, dengan tidak mengabaikan idealistik spiritual.
Pertama, seorang pendidik harus menjadi uswah bagi muridnya, dengan pendekatan sosialisasi karakter. Sering kita mendengar ungkapan, guru kencing (maaf) berdiri, murid kencing berlari. Artinya apapun yang dilakukan oleh seorang guru akan menjadi contoh buat kehidupan seorang murid. Begitu juga ketika guru misalnya dalam melakukan pengajaran bersikap destroyer atau membatasi ruang gerak anak didik untuk berekspresi dan berinovasi dalam prakteknya.
Maka bukan hal mustahil, sistem atau cara seperti ini akan dipakai juga oleh seorang murid ketika mereka menjadi seorang pengajar dikemudian hari. Sehingga dengan begitu, pendidikan akan terus menjadi masalah bukan menjadi penyelesaian masalah dalam kehidupan nyata anak didik. Ilmu pengetahuan bukannya mengalami peningkatan, tapi justru sebaliknya akan terus mengalami kemunduran keilmuan.
Kedua, seorag pendidik harus mau membuka kembali wawasan tentang hakikat belajar itu sendiri. Belajar harus mampu merangsang hasrat mendapatkan pengetahuan, membentuk proses akuisisi ilmu dan pembentukan struktur pikiran secara cepat dan seefektif mungkin, belajar bukan proses menyerap pengetahuan yang sudah jadi bentukan guru, tetapi pengetahuan dicipta sendiri oleh anak didik. Sehingga dalam hal ini pengajar sifatnya tidak lebih hanya menjadi perangsang dan fasilitator dalam proses belajar dan mengajar.
Dengan demikian, seorang guru diharapkan meningkatkan profesionalisme dan mensinergikan keduanya, yaitu dengan pendekatan sosialisasi karakter (uswah) dan pendekatan intruksional (pembentukan intelektualitas murid). tauladan sebagai pondasi pendidikan, dan belajar aktif sebagai proses belajar didalamnya. Sehingga akan terwujud anak didik yang Qowiyyun Aminun, manusia al Amin, dengan daya intelektualitas, potensi dan profesi. Semoga hal ini menjadi renungan kita bersama sebagai makhluk pembelajar. Saatnya guru Indonesia melakukan perubahan dan pembenahan, guna membangun Sumber Daya Manusia Indonesia yang memiliki daya intelektualitas dan moralitas. Selamat hari guru...