15 September 2008

MEMAKNAI NUZUL AL-QUR’AN MEMBANGUN INDONESIA

Oleh : Endin Saefudin

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al Qur'an) pada malam kemulian (Lailatul Qodar)." "Dan tahukah kamu apa malam kemuliaan". "Malam kemulian itu lebih baik dari seribu bulan". "Pada malam itu turun para malaikat dan ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan". "Malam itu penuh kesejahtraan sampai terbit fajar". (QS. Al-Qodar: 1-5).

Sekitar 15 abad silam, tepatnya tanggal 17 Ramadan bertepatan tahun 610 Masehi, Allah menurunkan al-Qur’an dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia. Al Qur’an diturunkan Allah SWT sebagai pedoman dan petunjuk bagi umat manusia. Yang menurut para ulama al Qur’an diturunkan dalam masa sekitar 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan perantara malaikat Jibril ini, menandai bahwa Muhammad SAW dilantik dan diangkat Allah SWT untuk menjadi Nabi dan Rosul (utusan).
Iqra’ adalah wahyu pertama sekaligus ayat pertama yang diterima Nabi Muhammad, yaitu perintah membaca. Inilah yang harus digaris bawahi oleh umat Islam, sebab seperti diketahui Nabi adalah manusia yang tidak bisa membaca dan menulis sampai akhir hayatnya, bagaimana mungkin beliau mampu membaca. Sehingga ketika Jibril menyuruh membaca, dalam suatu riwayat Nabi SAW hanya berkata “Ma aqra” (apa yang harus dibaca?). dengan jawaban itu berarti tidak ada obyek (teks) yang harus dibaca oleh Nabi.
Quraish Shihab dalam bukunya membumikan Al Qur’an (1992) menulis bahwa Iqra’ yang diartikan bacalah, terambil dari kata qara’a, yang menunjukan bahwa bacalah disini tidak harus ada teks (tertulis) untuk dibaca ataupun diucapkan sehingga terdengar orang. Dalam kamus bahasa, berbagai arti ditemukan dalam kata tersebut diantaranya menyampaikan, menghimpun, menelaah, membaca, mendalami dan lain-lain. Jelaslah disini, kata Iqra’ sebagai wahyu pertama tidak ada obyek yang harus dibaca tetapi mencakup semua obyek yang bisa dijangkau oleh kata tersebut.
Dengan satu kata Iqra’ ini, Nabi Muhammad SAW mampu membangun peradaban (Islam) hingga sekarang. Keluar dari masyarakat yang gelap menuju masyarakat yang cerah, dari masyarakat yang amoral menuju masyarakat yang bermoral dan bermartabat. Beliau mampu membaca dan memahami realitasnya, baik secara budaya maupun sosial. Dengan waktu relatif singkat, selama kurang lebih 22 tahun. Sehingga wajar bila dikatakan bahwa membaca adalah syarat utama dalam membangun peradaban.
Membangun Indonesia
Ketika kita melihat wajah Indonesia saat ini, yang semakin jauh dari nilai-nilai kebangsaan. Tapi justru sebaliknya, koruptor, ketidakadilan, kekerasan, kemiskinan ditambah dengan martabat bangsa yang semakin terpuruk. Maka dengan bulan diturunkannya al Qur’an ini, menjadi keniscayaan untuk memaknai Nuzulul Qur’an sebagai dasar dalam membangun bangsa (Indonesia). Yaitu dengan melihat falsafah dasar wahyu pertama Iqra’ tadi..
Dalam membangun Indonesia menjadi lebih baik, manusia Indonesia harus mampu memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam yang melimpah di negeri ini semaksimal mungkin. Tentunya hal ini harus didukung dengan Sumber Daya Manusia yang mapan. Sedangkan SDM tidak akan terwujud ketika manusia-manusianya sudah tidak lagi mau membaca. Keterbelakangan Negeri muslim dibandingkan Barat disebabkan lemahnya human resources (sumber daya manusia), yaitu kurangnya ilmu pengetahuan, dan faktor utama yang berpengaruh adalah rendahnya minat baca.
Berdasarkan Education for All Global Monitoring Report tahun 2005, Indonesia merupakan negara ke-8 dengan populasi buta huruf terbesar didunia, terkait dengan persoalan membaca, yakni sekitar 18,4 juta orang (Kompas, 20 juni 2006). Dan Taufik Ismail dalam observasinya terhadap beberapa siswa SD di kawasan ASEAN, mengatakan bahwa anak-anak Indonesia rabun membaca dan lumpuh menulis.
Dengan keadaan demikian wajar ketika bangsa ini belum juga mampu keluar dari keterpurukan, disamping karena adanya kebobrokan mental manusianya, terutama kaum elit yang kurang berpihak kepada rakyat. Maka menjadi syarat mutlak dalam membangun sebuah bangsa (Indonesia) adalah membangun dulu manusianya, baik ilmu pengetahuan, moral, karakternya ataupun kepribadian.
Bung Karno dalam pidatonya mengatakan, tanpa karakter yang gilang gemilang orang tidak dapat membantu kepada pembangunan nasional, Orang yang tidak mempunyai karakter yang dalam, lebih mementingkan diri sendiri, tidak mampu menyelami, merasakan, untuk ikut beleven amanat penderitaan Rakyat.
Dan ketika kita sudah mampu untuk memaknai hakikat Iqra’ maka apapun yang diputuskan akan sesuai dengan realitas dan sosial yang dihadapi. Sebab tidak jarang pemimpin negeri ini dalam mengambil keputusan tidak melihat secara cermat keadaan rakyatnya, kebijakan yang selalu merugikan kaum miskin dan cenderung menguntungkan konglomerat atau elit tetentu.
Disinilah bagi penulis rahasia terbesar mengapa wahyu pertama Allah yang disampaikan kepada Nabi yaitu kata Iqra’ sebab seperti dijelaskan diatas dengan pengertian memahami, mengerti, membaca, dan mengkaji dalam ruang dan waktu yang mengililingi kita, akan mampu keluar dari kegelapan menuju cahaya kehidupan yang sesungguhnya. Terbukti dengan perjalanan Muhammad SAW yang berakhir dengan kemenangan dan pembebasan.
Sarbini (2005) menyatakan aspek yang melingkupi revolusi Islam diantaranya adalah pribadi nabi sendiri sebagai ikon gerakan revolusioner yang ditugaskan oleh Allah sebagai rahmat bagi semua lapisan masyarakat. dengan membawa misi pembebasan, dengan nilai-nilai Al Qur’an sebagai pedomannya.
Maka memaknai Nuzulul Qur’an (diturunkannya al Qur’an) yang disampaikan kepada Nabi, sebagai panutan atau suri teladan umat Islam dalam segala bidang kehidupannya. Mampu dijadikan dasar dalam membangun diri sendiri, masyarakat, dan bangsa Indonesia, menuju bangsa yang besar dan bermartabat. Semoga!

Tidak ada komentar: