Oleh: Endin Saefuddin
"Sesungguhnya kami telah menurunkan (al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan" (Q.S. al Qadar: 1-3)
Keistimewaan Ramadan tidak diragukan lagi oleh umat Islam, pada bulan Ramadan ini terdapat malam Qadar, yaitu suatu malam yang dinilai lebih baik dari seribu bulan. Dalam al Qur'an disebutkan sebagai malam turunnya al Qur'an, seperti tersebut dalam ayat diatas (Q.S. al Qadar: 1-3).
Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan al Qur'an (1996), kata Qadar yang pertama, mengandung arti "penetapan dan pengaturan", dapat dipahami bahwa Lailat al Qadar merupakan malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manuisa. Kedua dengan arti malam “kemuliaan”, sebab malam ini dipilih sebagai malam turunnya al Qur'an serta malam ini menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Dan terakhir Qadar diartikan sebagai "sempit", karena pada malam ini para malaikat turun ke bumi, "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ruh (Jibril) dengan ijin Tuhannya untuk mengatur segala urusan (Al Qadar: 4)
Dari ketiga makna tersebut, pada hakikatnya menjadi benar, karena malam kemuliaan yang jika mampu diraih maka ia dapat menetapkan masa depan manusia, yang mana pada malam tersebut malaikat-malaikat turun ke bumi membawa kedamaian dan ketenangan, seperti ditambahkan oleh M. Quraish Shihab.
Adapun terkait dengan waktu kapan lailat al Qadar itu hadir, menurut riwayat Nabi Saw, malam tersebut terjadi pada tanggal malam ganjil. Pendapat yang paling kuat terjadinya malam Lailatul Qadar berdasarkan hadits Aisyah r.a, ia berkata: Rasulullah Saw beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadhan, Nabi Saw bersabda: "carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” (Hadits Bukhari dan Muslim). Dan Imam Syafi’i berkata, “Menurut pemahamanku, Nabi Saw menjawab sesuai yang ditanyakan, yaitu ketika ada yang bertanya pada Nabi Saw : “apakah kami mencarinya di malam ini?, beliau menjawab: “carilah di malam tersebut” (Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 6/386). Namun semua itu tidak perlu dipersoalkan, yang terpenting adalah bagaimana malam tersebut dapat kita raih dan menangkap pesan moral sosialnya sebagai langkah menuju kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang lebih baik.
Ralitas dan solusi kebangsaan
Berbicara realitas kebangsaan kita hari ini sungguh sangat memilukan sekaligus memalukan. Bangsa yang diraih dengan darah, harta juga nyawa ini sedang menderita penyakit yang begitu parah. Semua ini terjadi karena telah terkikisnya rasa nasionalisme dan hilangnya budaya malu pada manusianya. Sehingga tindakan-tindakan yang melanggar konstitusi juga kemanusiaan pun tidak lagi dihiraukan, yang penting kepuasan dan kesejahteraan individu maupun kelompok dapat terpenuhi.
Coba kita saksikan berbagai perilaku amoral yang sering dipertontonkan kepada kita oleh para elit, baik perselingkuhan jabatan maupun wanita. Korupsi tetap menjadi budaya pejabat yang tidak bertangung jawab, entah sampai kapan akan berakhir. Tindakan dan perilaku yang tidak kenal malu tersebut adalah mencirikan hilangnya nilai-nilai spiritual dalam kehidupan manusia. Sebab jika nilai ruhani tersebut tetap hadir, niscaya akan membawa pada perilaku bermoral dan tindakan positif lainnya yang penuh kemuliaan. Tentunya masih banyak lagi tindakan-tindakan lainnya yang tidak bermoral atas realitas kebangsaan hari ini.
Wajar jika martabat bangsa di mata negara lain pun begitu hina dengan hilangnya kemuliaan sebagai bangsa yang besar. Negara luar memandang remeh dan kecil dengan kebesaran bangsa yang bernama "Indonesia" ini. Hal ini terbukti seperti yang dilakukan oleh negeri tetangga (Malaysia) kepada kita, dengan beraninya negeri jiran tersebut berulang kali menyerobot kekayaan kita (baik terkait wilayah maupun kekayaan budaya bangsa). Tapi kita sebagai bangsa hanya bisa memprotes, dan ketika kata "maaf" terlontar dari mereka, kita hanya bisa meng-iyakan tanpa ada tindakan konkrit yang membuat mereka jera dan kapok. Apakah diamnya kita memang karena akhlak bangsa kita yang mulia, yaitu mudah memaafkan kesalahan. Atau mungkin justru bangsa ini memang tau diri dengan keadaannya yang semakin terpuruk? tapi yang pasti, tindakan negeri tetangga tesebut menguatkan argumen kita bahwa Indonesia memang tidak dihargai dan dihormati lagi.
Dengan realitas kebangsaan tersebut, coba kita kembalikan pada siklus organik dari turunnya Alquran pada malam Qadar, dirasa terdapat beberapa isyarat dan hikmah untuk dijadikan refleksi teosofis maupun sosial bagi kebangsaan kita hari ini. Pertama, Alquran secara global turun pada malam hari (malam kepastian). Ini artinya persoalan-persoalan bangsa sedang berada dalam eskalasi kegelapan yang membutuhkan pencerahan yang lebih dari seribu bulan, yang berarti dapat dikatakan satu generasi. Bangsa ini benar-benar membutuhkan sebuah cahaya perubahan yang dapat menerangi jalan-jalan disetiap persimpangan kehidupan berbangsa. Seperti Nabi Muhammad juga yang mampu membawa bangsanya kepada kejayaan dan kemenangan, yang pada saat itu, bangsanya sedang berada pada zaman kebobrokan.
Kedua, pada malam kemuliaan tersebut, para malaikat turun ke bumi dengan membawa misi perdamaian disertai dengan spirit agung. Menandakan bahwa mundurnya kehidupan dalam berbangsa dan bernegara, adalah sebuah akibat dari pudarnya spirit keagungan dan keluhuran. Keluarnya keagungan dan kemuliaan dari bangsa ini tidak lain karena keangkuhan, kesombongan, dan keserakahan manusianya sendiri yang telah menjadi penjajah bagi kehidupan sosial kemanusiaan.
Ketiga, Lailatul Qadar berakhir ketika fajar terbit, ini memberikan makna bahwa sehebat apapun pembaharuan (pencerahan) yang dilakukan, hanya akan mengalami kegagalan, apabila kesiapan psikologis-individu dalam menyongsong rahmat yang akan hadir itu tidak pernah terealisasikan dalam kehidupan dengan penuh kesadaran dan ketulusan dari seluruh elemen bangsa. Terbukti, reformasi yang kita lakukan dengan harapan akan datang sang fajar yang menyinari kehidupan bangsa ini, ternyata hanya mimpi belaka. Bangsa semakin berada pada statistik yang jauh dari harapan, kemiskinan, ketertinggalan yang menjadi sahabat sejati yang tidak pernah berakhir.
Oleh sebab itu, Lailat al Qadar selayaknya mampu diambil hikmah dan dijadikan sebagai solusi untuk menjawab segala permasalahan kebangsaan. Sebagaimana Nabi juga menjadikan Lailat al Qadar sebagai titik tolak dalam membangun sebuah peradaban yang maju dan bermartabat, yaitu peradaban Islam yang sekarang kita dapat nikmati. Lailat al Qadar menjadi sebuah ketetapan kehidupan yang lebih layak lagi, penuh dengan keluruhan akhlak, keharmonisan, kedamaian, penuh cinta diantara sesama (rahmatan lil 'alamain). Kita raih Lailatul Qadar dengan kesiapan spiritual, sehingga transformasi moral mampu berpengaruh terhadap proses kebangsaan ke depan yang lebih baik, dengan Alqur'an sebagai pedomannya.
Ketika kulihat kehidupan dalam jiwa maka aku katakan ”itulah cinta dan
keindahan” Cinta merupakan dasar dari kehidupan dan keindahan adalah buah
dari kehid...



Tidak ada komentar:
Posting Komentar