Oleh: Endin Saefuddin
Datangnya Ramadhan 1430 H, umat Islam di seluruh Dunia akan menyambut dengan gembira, tidak terkecuali juga umat Islam di Indonesia. Seperti biasa ketika Ramadhan tiba, masyarakat Indonesia yang mayoritasnya muslim sibuk merancang berbagai kegiatan keagamaan, sebab Ramadhan diyakini sebagai bulan suci yang penuh berkah dan maghfiroh. Dalam filosofi Jawa, puasa adalah prosesi prihatin, sebagai sarana menuju derajat manusia pilihan (jalma winilis) yang dekat dengan Sang Kholiq. Sehingga wajar jika dalam penyambutan maupun pelaksanaannya penuh dengan pernak-pernik kegiatan dan terlihat begitu istimewa, dibanding dengan bulan-bulan lainnya.
Dalam masyarakat Jawa, terdapat sebuah ritual keagamaan yang begitu kental dan menjadi tradisi yang tidak terlewatkan setiap tahunnya. Hal ini dimaksudkan sebagai wujud menyambut hadirnya bulan suci Ramadhan. Ritual tersebut merupakan adat kebiasaan turun temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan hingga kini, yang disebut dengan tradisi Nyadran dan Padusan.
Pertama, Nyadran, merupakan tradisi ritual bernuansa religi dengan cara berziaroh dan tabur bunga kemakam para leluhur, tetua, kerabat atau tempat-tempat yang dianggap sakral. Hal ini dimaksudkan untuk mendo'akan arwah para leluhurnya agar mendapatkan pengampunan dari Tuhan, yang sebelumnya terlebih dulu diadakan Nyekar yaitu membersihkan makam-makam.
Dalam pelaksanaan tradisi Nyadran terlintas sebuah pertanyaan dibenak kita, kenapa ritual ini dilakukan pada bulan Ruwah (Sya'ban), dengan waktu pelaksanaan biasanya dipilih antara tanggal 15, 20, dan 23 Ruwah. Hal ini ternyata berdasarkan pada pemahaman yang meyakini bahwa bulan Ruwah merupakan waktu turunnya arwah para leluhur untuk mengunjungi anak cucu di dunia (paham mudhunan dan munggahan). Kata "Ruwah" terkait dengan roh (diambil dari kata Arwah, Arab), sehingga pada bulan Ruwah dipercaya sebagai waktu yang tepat untuk mengunjungi (berziarah) mendo'akan arwah para leluhur. Disamping itu, ada pemahaman juga bahwa kata "Ru-Wah" adalah singkatan dari nge-Ruruhi arWah, (memperhatikan atau mengingat leluhur), sebagai wujud dharma bakti mereka kepada leluhurnya. Dengan begitu, tradisi Nyadran berarti dapat dipahami sebagai bentuk simbolis hubungan manusia dengan manusia (horizontal) dan Yang Maha Pencipta (vertikal).
Tradisi ritual Nyadran ini ada kesamaan dengan tradisi Craddha (berasal dari kata Sansekerta Sradhha; kepercayaan, keyakinan) yang muncul pada zaman Majapahit, yaitu sebuah kegiatan manusia yang berkaitan dengan leluhur yang sudah meninggal (Budi Puspo Priyadi, 1989). Oleh karena masyarakat jawa kuno percaya bahwa arwah para leluhur yang sudah meninggal, hakikatnya masih ada dan mempengaruhi kehidupan generasi (anak cucu) selanjutnya.
Terkait dengan Sradhha, sejarawan Zoetmulder melalui bukunya Kalangwan, mengisahkan upacara Sraddha dilaksanakan untuk mengenang wafatnya Tribhuwana Tungga Dewi (1352). Dan ketika Islam masuk ke tanah Jawa, Sunan Kali Jaga mengemas upacara Sraddha ini dengan nilai-nilai Islami. Sehingga dari sini terlihat kental adanya perpaduan (sinkretis) antara tradisi Jawa dan Islam.
Kedua, Padusan, berasal dari kata "adus" (mandi), yang berarti membersihkan diri. Sama halnya dengan Nyadran, Padusan juga adalah sebuah tradisi bernuansa religious yang dilaksanakan sehari sebelum Ramadhan tiba. Padusan ini umumnya dilakukan di sumber mata air, tempat-tempat pemandian, seperti di sungai, kolam, telaga ataupun laut. Tapi seiring dengan kemajunan zaman, kolam renang ternyata dipakai juga dalam melakukan Padusan ini. Ketika saat padusan tiba biasanya ditandai dengan tabuhan bedug di mushola atau masjid, dengan irama khasnya tersendiri, sehingga tidak semua masyarakat bisa melakukannya. Tabuhan bedug dengan irama khas ini dalam masyarakat Jawa dikenal dengan tabuhan Njedhor, yang dilakukan pada waktu-waktu setelah selesai sholat fardlu.
Tradisi Padusan berupa mandi wajib, yang dalam syari'at (fikih) adalah untuk mensucikan diri. Maka secara harfiah, Padusan dapat dimaknai sebagai persiapan lahir dan batin menyambut datangnya Ramadhan. Sebuah persiapan bagi manusia dalam memasuki bulan yang suci dengan membersihkan diri dari sifat-sifat yang buruk. Sehingga diharapkan ketika memasuki bulan suci (Ramadhan) sudah siap secara lahiriyah maupun batiniyah.
Setelah ritual Nyadran dan Padusan selesai dilakukan, dalam tradisi Jawa-Islam juga terdapat tradisi Kendhuri yang dilaksanakan menjelang tenggelamnya matahari di ufuk barat, sehari sebelum tanggal 1 Ramadan (malam pertama di bulan Ramadhan). Kenduri ini berasal dari kata-kata ila hadroti ruuhi (biasa dibaca oleh imam ketika tahlil/dzikir, yang menghadiahkan pahala yang dibaca untuk arwah yang dituju), atau disebut dengan meng-hadhorohi. Kemudian ucapan tersebut orang Jawa mengucapkannya dengan kandorohi, dari ucapan inilah berubah lagi menjadi kendhuri (Madchan Anis, 2009).
Kendhuri juga dinamai dengan Megengan yang berasal dari kata "megeng" dengan arti menahan. Hal ini sebagai simbol bahwa ketika berpuasa harus serba menahan nafsu diri dari hal-hal yang sifatnya negatif dan berbuat baik terhadap sesama dan lingkungan sosialnya. Yaitu disimbolkan dengan berbagi makanan (sedekah) kepada para sanak saudara maupun tetangga-tetangga.
Dalam pandangan penulis, dari tradisi ritual dalam menyambut Ramadhan tersebut diatas, terdapat makna dan pesan social yang saling berkaitan satu sama lain. Nyadran sebagai mediasi permohonan ampun atas dosa seorang hamba kepada Yang Maha Kuasa. Setelah itu, dilanjutkan dengan penyucian diri dan jiwa dengan ritual yang disebut Padusan. Ini artinya ketika manusia mengakui atas kesalahan dan dosa-dosanya, maka saat itu pula dia (manusia) tidak akan mengulangi dan melakukannya lagi. Yaitu dengan cara menguasi dan menahan nafsunya dari berbuat salah dan dosa, hal ini sebagai esensi dari tradisi Megengan yang dilakukan.
Dengan demikian, harapan penulis semoga dari semua ritual keagamaan tersebut, semoga mampu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya dijadikan sebuah rutinitas ritual tahunan yang sepi dari nilai-nilai positif, sehingga menjadi kegiatan ritual yang hampa tanpa makna. Momen Ramadhan adalah kesempatan terbaik menuju kehidupan lebih baik lagi, bukankah ini yang menjadi esensi dari ritual tersebut dia atas. Dan saatnya idul fitri nanti menjadi kemenangan sejati sebagai Insan al Kamil. Selamat menunaikan ibadah puasa 1430 H.
Ketika kulihat kehidupan dalam jiwa maka aku katakan ”itulah cinta dan
keindahan” Cinta merupakan dasar dari kehidupan dan keindahan adalah buah
dari kehid...



Tidak ada komentar:
Posting Komentar