23 Mei 2009

MENILIK BIOGRAFI (KARIR) PARA CALON PEMIMPIN NASIONAL

Oleh : Endin Saefudin

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan perolehan suara parpol untuk DPR periode 2009-2014, sekaligus menetapkan partai-partai yang lolos parliamentary threshold 2,5 persen. Posisi pertama ditempati oleh partai Demokrat, disusul Golkar, PDI-P, PKS, PAN, PPP, PKB, Gerindra dan Hanura. Dan selanjutnya pemilu 2009 memasuki pada tahap dua yaitu pemilihan presiden RI periode 2009-2014.
Pilpres 2009 nanti, Demokrat masih mengusung Susilo Bambang Yudhoyono berpasangan dengan Boediono (non partai), Golkar mengusung Yusuf Kalla dan Wiranto (Hanura) dan PDI-P Megawati Soekarno Putri dan Prabowo Subianto (Gerindra). Komposisi ini lah yang akan bertarung dalam perebutan kursi presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2009-2014.
Pertama, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah Presiden Republik Indonesia pertama pilihan rakyat secara langsung (2004-2009). SBY lahir di Pacitan, Jawa Timur, 9 september 1949. Dalam pendidikan, SBY dimulai di Akademi Militer Nasional (1970-1973), Airborne and Ranger Course di Fort Benning, Georgia, AS (1976), Infantry Officer Advanced Course di Fort Benning, Georgia, AS (1982-1983), Jungle Warfare Training di Panama (1983), Anti Tank Weapon Course di Belgia dan Jerman (1984), Kursus Komandan Batalyon di Bandung (1985), Seskoad di Bandung (1988-1989) dan Command and General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas, AS (1990-1991). Dan gelar MA dari Webster University AS.
Langkah karir politiknya dimulai tahun 2000, pada pemerintahan presiden KH Abdurrahman Wahid (Gusdur), dipercaya menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi. Tidak lama kemudian, SBY meninggalkan posisinya tersebut, sebab Gusdur memintanya menjabat Menkopolsoskam menggantikan Wiranto yang mengundurkan diri sebagai Menkopolsoskam, dan pada akhirnya Gusdur pun memberhentikannya. Selanujtnya menjabat Menko Polkam masa pemerintahan Megawati Sukarnopotri, dan mengudurkan diri pada masa akhir pemerintahan Megawati.
Pada pilpres kali ini, SBY berpasangan dengan Boediono (Gubernur Bank Indonesia), lahir di Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943. pernah menjadi Menteri Keuangan, pemerintahan Megawati. Merupakan ekonom yang bukan dari partai. SBY sepertinya memprioritaskan kecocokan personal ketimbang kepentingan koalisi di parlemen.
Kedua, Dr (HC) Hj. Megawati Soekarnoputri, suami dari Taufiq kiemas dan putri dari bapak proklamator (Soekarno) ini, lahir di Yogyakarta, 23 januari 1947. melakaukan proses pendidikan di Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran (1965-1967) dan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1970-1972) (tidak selesai).
Megawati merupakan presiden RI ke-5 (2001-2004), Wakil Presiden RI (1999-2001), Anggota DPR/MPR RI (1986-1992 dan 1999). Adapun organisasi yang pernah dijalaninya yaitu aktif sebagai aktivis GMNI, 1965-1972, ketua Partai Demokrasi Indonesia (PDI) cabang Jakarta Pusat, Ketua umum DPP PDI, 1993-1998, Ketua umum DPP PDI Perjuangan, 1998-2000, Ketua umum DPP PDI Perjuangan, 2000-2005, dan peserta Konvensi Wanita Islam International di Pakistan 1994.
Dalam momentum pilpres 2009 ia tampil kembali mencalonkan diri. Seorang politisi yang memimpin partai nasionalis besar yang bergerak dewasa dengan segala dinamikanya. Kematangannya sudah mencapai puncak percaturan politik. sehingga obsesi politik pengabdiannya sudah mencapai puncak yaitu "menjadi pemenang".
Pada pemilihan pilpres juli 2009 nanti, Megawati berpasangan dengan Prabowo Subianto, ketua dewan penasehat partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Mantan Pangkostrad dan Komjen Kopassus. Yang menurut survey nasional (National Leadership Center (NLC) bersama Taylor Nelson Sofress (TNS) Indonesia) yang pada bulan september 2008 ia berada pada peringkat ketiga tokoh yang diharapkan responden menjadi presiden RI.
Ketiga, Drs H Muhammad Jusuf Kalla, lahir di Sulawesi selatan, 15 mei 1942, beristrikan Ny. Mufidah Jusuf. Ia sekarang menjabat sebagai wakil presiden RI 2004-2009. Dan jabatan kenegaraan lain yang pernah di embannya yaitu Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat tahun 2001-2004, Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI, 1999-2000.
Ia menyelesaikan studinya di Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanudin Makasar, 1967 dan The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis (1977). Dia juga pernah menjadi anggota MPR-RI tahun 1988-2001. dan sekarang masih tercatat sebagai ketua umum DPP Partai Golkar.
Calon presiden dari partai Golkar ini saat berbicara dengan 23 Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar dan sejumlah alumni Universitas Hasanuddin Sabtu (2/5/09) mengatakan, sebagai pemimpin, ia berani  mengambil risiko. "Kalau pemimpin tidak berani ambil risiko, berhenti saja jadi pemimpin,”
Yusuf kalla dalam pilpres mendatang berpasangan dengan Jendral (purn) Wiranto. pendiri partai Hanura. lahir di Yogyakarta, 4 april 1947, mantan Menhankam/Pangab 1998, masa pemerintahan BJ. Habibi, dan Menko Polkam, 1999-2000 masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, juga Panglima ABRI 1998-1999. pernah juga ikut dalam pilpres 2004 berpasangan dengan Shalahdin Wahid, namun hanya berada pada posisi tiga pada putaran pertama.
Ada beberapa hal menarik dari pasangan capres-cawapres 2009, tercatat bahwa SBY (presiden RI 2004-2009), Megawati (Presiden RI 2001-2004), Yusuf Kalla (Wapres 2004-2009) dan Wiranto, adalah para tokoh pilpres 2004 lalu. Yang sekarang bertarung kembali memperebutkan RI-1 dan RI-2. Hanya saja bedanya, pada pilpres 2004, SBY berpasangan dengan Yusuf Kalla, Megawati dengan Hasyim Muzadi, dan Wiranto bersama Shalahudin Wahid. Dan enam dari tokoh capres dan cawapres 2009, hanya Boediono yang bisa dikatakan wajah baru dalam perebutan jabatan publik bersama Prabowo Subiyanto.
Hal terpenting sekarang adalah bukan lagi mempersoalkan siapa dan dari mana pasangan capres dan cawapres itu berasal, tapi yang lebih penting adalah mampukah para calon pemimpin nasional tersebut membawa perubahan bangsa kearah lebih baik, membawa kesejahteraan menuju bangsa yang mandiri dan bermartabat. Inilah kiranya esensi dari pesta demokrasi yang kita laksanakan.
Momentum pergantian kepemimpinan nasional, rakyat harus cerdik dan cerdas dalam memilih, tidak termakan dan terjebak oleh jeratan janji-janji yang jauh dari realitas dan kejujuran. Kita harus cermat memilih pemimpin nasional yang mempunyai integritas, komitmen, idealisme, visi dan misi yang berkelanjutan, jauh dari kepentingan, baik pribadi atau kelompok. Sehingga dengan begitu diharapkan pemerintahan yang terbentuk nanti sesuai dengan cita-cita dan harapan bersama, dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Tidak ada komentar: