Oleh : Endin Saefudin
"Pelajaran terbaik yang bisa diambil dari kalang-kabutnya kondisi politik saat ini adalah, media massa /pers telah gagal memberikan pencerahan bagi pendidikan politik dan demokratisasi. Dan sebaliknya, elite politik sukses besar menggunakan media massa sebagai "kereta besarnya" yang membawa mereka sampai pada tujuan politiknya" (Anton Sanjoyo, 2001)
Tugas media adalah mengangkat fakta sosial ke dalam fakta mediatik. Namun Fungsi mimesis ini sering digeser ketika media menjadi alat kepentingan. Baik kepentingan politik, ekonomi, ada juga yang menuding kepentingan ideologi dominan. Sehingga akhirnya fungsi media bukan lagi menggambarkan realitas, namun membentuk atau mengkonstruksi realitas sosial sesuai dengan kepentingan, dengan memakai topeng media demi mencapai kekuasaan.
Pergeseran selanjutnya, ketika media dipahami sebagai ruang dan medan kontestasi dan negosiasi. Media sanggup membentuk identitas personal, sosial, dan kolektif masyarakat. Juga sebaliknya, nilai-nilai, ideologi, ajaran, kepentingan yang hidup dan berkembang di masyarakat juga membentuk karakter media. Dengan demikian, media dapat dikatakan menjadi alat pertarungan nilai, kepentingan, identitas, kultural, sampai ideologi. Sesuai seperti apa yang diungkapkan oleh David Croteau dan Hoynes, membagi media dalam dua bentuk, yakni media yang berbasis kepentingan pasar dan media yang berbasis kepentingan publik.
Dengan karekteristik dan eksistensinya, media khususnya media massa mempunyai tanggung jawab besar kepada publik. Media mempunyai peran penting dalam megungkap realitas faktual tertentu yang kemudian menjadi wacana dan akhirnya berujung pada pencitraan. Disinilah peran media dalam pilpres 2009 nanti diuji. Jangan sampai media terjerumus kedalam kepentingan kekuasaan. Ingat, bukankah opini publik mewakili citra superioritas? artinya siapa yang mampu menguasai opini publik maka dia akan mampu mengendalikan orang.
Kenneth E. Boulding (1969) mengatakan bahwa citra, rencana, dan operasi merupakan matriks dari tahap-tahap kegiatan dalam situasi yang selalu berubah, opini publik seakan memberi inspirasi bagaimana individu atau kelompok bertindak dan berusaha untuk terhindar dari pencitraan buruk (stigmatisasi). Apalagi ketika kekuasaan yang menjadi tujuannya. Yang terbukti ketika orde baru bercokol, media dijadikan alat ampuh untuk mempertahankan kekuasaan
Bukankah opini publik identik dengan hegemoni ideologi? Ketika kelompok atau pemerintahan ingin tetap terus berkuasa, maka ideologi kekuasaannya harus menjadi dominan dalam opini publik. Mengutip Raymond Williams dan Stuart Hall, mengatakan "Hegemoni dalam konteks politik manapun memang rapuh. Hegemoni mensyaratkan pembaruan dan modifikasi melalui penegasan kembali kekuasaan. Yang menentukan bagi konsep tersebut adalah hegemoni bukanlah suatu keadaan yang sudah mati dan permanen, tetapi ia harus secara aktif dimenangkan dan direbut".
Tantangan media massa pada pilpres 2009
Ketika pemilihan legislatif 9 April 2009 kemarin, media massa tidak luput dari target kampanye bahkan diguankan sebagai alat pencitraan individu atau kelompok tertentu, demi kelancaraan missinya. Tentunya hal itu sah-sah saja da tidak ada masalah. Tapi akan menjadi masalah ketika media tidak memberikan opini yang otentik tetapi hanya memberikan kepalsuan. Sehingga media yang merupakan sarana informasi dan pembentuk mental bangsa akan pupus.
Dengan kondisi bangsa seperti saat ini, butuh pencerahan untuk bangkit dan maju. Dan melalui media lah menjadi salah satu cara untuk membangkitkan bangsa menjadi lebih baik lagi. Sebab media memiliki fungsi pengantar bagi segenap macam pengetahuan, dengan kegiatannya dalam lingkup publik. Dan pada dasarnya hubungan antara media dan konsumen seimbang dan sama. Sehubungan dengan itu, sumbangan media massa dalam menciptakan persepsi demikian mungkin lebih besar daripada institusi lainnya.
Karena fungsi dan peranannya begitu urgen, maka media (massa) mempunyai tanggung jawab moral, guna memberikan informasi, pendidikan dan kebutuhan lainnya yang diperlukan masyarakat, terutama dalam pemilihan presiden mendatang, dengan penuh keterbukaan dan kejujuran. Harus digaris bawahi bahwa momen pesta demokrasi yaitu pemilihan presiden 2009 menjadi penentu utama menuju kemajuan bangsa. Arah bangsa dan negara ada ditangan pemimpin nasional yang terpilih nanti.
Oleh karena itu, ketika media yang menjadi sarana informasi masyarakat keluar dari tanggung jawab, eksistensi serta fungsinya, sama halnya pelaku media memberikan kebodohan dan kehancuran pada bangsa, bukan menjadi pencerahan untuk masyarakat dan bangsa.
Perlu di ingat lagi bahwa apa yang dipresentasikan oleh media mengenai hal tertentu, apakah pesan atau pencitraan tertentu, akan dikonstruksi dalam imajinasi publik (pembaca/konsumen media). Sehingga bukan hal yang mustahil fungsi dan peran media tersebut akan dimanfaatkan dan dimainkan menjadi alat perjuangan simbol bagi elit-elit sebagai jaringan untuk kekuasaan.
Maka, dalam iklim demokrasi dan transparansi sekarang ini, peranan media diharapkan tetap berada pada independensi dan eksistensinya sebagai penyedia informasi dan pendidikan, dengan prinsip kebenaran dan bebas. Tidak seperti apa yang diungkapkan oleh Anton Sanjoyo, (wartawan kompas,2001) yang mengatakan ”Pelajaran terbaik yang bisa diambil dari kalang-kabutnya kondisi politik saat ini adalah, media massa/pers telah gagal memberikan pencerahan bagi pendidikan politik dan demokratisasi. Dan sebaliknya, elite politik sukses besar menggunakan media massa sebagai "kereta besarnya" yang membawa mereka sampai pada tujuan politiknya"
Dengan demikian, media massa dituntut untuk ikut aktif melibatkan diri dalam interaksi sosial yang terkadang juga bisa menunjukkan arah atau memimpin, serta berperan serta dalam menciptkan hubungan dan integrasi. Bagaimanapun juga konsep media sebagai penyaring telah diakui masyarakat, jadi jangan sampai hal ini terkotori dan menjadi cacat karena persoalan materi sesaat dan mengabaikan kesuksesan masa depan dan kemaslahatan bersama.
Dalam perhelatan pemilihan presiden 2009, yang dirasa sudah memperlihatkan gejala tidak sehat dalam berkompetensi, media akan menjadi alat jitu guna meraih simpati dan dukungan publik (masyarakat). Para elit (yang tidak bertanggung jawab) tidak akan segan-segan mengeluarkan dana besar demi kesuksesannya. Semoga pelaku media tidak terjebak dalam keuntungan sesaat dan mengabaikan eksistensi dan independensinya, demi kemajuan bangsa dimasa depan.
Ketika kulihat kehidupan dalam jiwa maka aku katakan ”itulah cinta dan
keindahan” Cinta merupakan dasar dari kehidupan dan keindahan adalah buah
dari kehid...



Tidak ada komentar:
Posting Komentar