Oleh : Endin Saefudin
"Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas segala kepemimpinannya"(al Hadist)
"Merah-hitam sebuah bangsa adalah merah-hitam pemimpinnya"
Menjelang pemilihan presiden 2009, partai-partai politik sudah mulai sibuk mempersiapkan strategi pemenangan pemilu, manuver-manuver politik pun seakan menjadi tontonan menarik di media-media. Saling klaim keberhasilan, perang propaganda antar kubu menjadi gencar dilakukan, dan sebaginya. Semua ini dilakukan adalah guna meraih simpati dan dukungan rakyat menuju puncak kepemimpinan di negeri yang bernama "Indonesia" ini.
Dinegeri yang demokrasi ini, siapapun tidak ada larangan untuk bersaing menjadi pemimpin atau meraih jabatan publik. Dalam teori Khalifah, imamah (kepemimpinan), Ibnu Khaldun mengatakan manusia mempunyai kecenderungan alami untuk memimpin karena mereka diciptakan sebagai khalifah Allah dimuka bumi. Baik yang bersifat pribadi atau pemerintahan yaitu kepemimpinan yang telah melembaga kedalam suatu sistem kedaulatan atau sosial. Namun selayaknya usaha-usaha untuk menjadi pemimpin (publik) tersebut dilakukan dengan jujur, transparan, dan penuh tanggung jawab. Berdemokrasi dengan elegan dan tetap menghormati lawan.
Dalam komposisi capres dan cawapres 2009 rata-rata semuanya diisi oleh orang-orang lama dan bahkan hampir semuanya para kontestan pemilu 2004 lalu. Taufiq Adi Susilo (2009) menulis, berbicara tentang representasi, yang pantas menjadi pemimpin nasional harusnya putra-putri bangsa yang berasal dari kelompok usia produktif yaitu 25-55 tahun. Sebab sekitar 90 persen populasi Indonesia berada pada kelompok umur dibawah 55 tahun, dan hanya sekitar 10 persen yang berada pada kelompok umur diatasnya. Artinya usia produktif (25-55 tahun) jauh lebih banyak sekitar 40 persen. Namun yang terjadi pada perebutan kursi presiden 2009-2014 sekarang, masih didominasi oleh kalangan tua.
Fenomenan ini seakan menegaskan bahwa seakan-akan populasi bangsa ini dihuni oleh mayoritas kalangan tua. Atau mungkin semua terjadi karena adanya tingkat naluri kekuasaan manusia Indonesia sangat tinggi? Atau benarkah apa yang dikatakan orang diluar sana, bahwa perpolitikan di Indonesia hanya mengedepankan jabatan dan kekuasaan bukan atas dasar keprihatinan kondisi masyarakat dan bangsa?
Jika demikian, perlu kiranya kita rakyat Indonesia, cermat dan cerdas dalam memilih pemimpin nanti. Kondisi bangsa yang sedang sakit ini harus kita sadari dan insafi diatas kepentingan pribadi dan golongan. Maka pada pilpres nanti, kita dituntut untuk memilih wujud kepemimpinan ideal yang punya visi, misi dan konsep-konsep yang jelas dan berkelanjutan, menuju kesejahteraan rakyat.
Prinsip (kriteria) seorang pemimpin
Berbicara pemipin tentunya tidak lepas dari kepemimpinan, merupakan dua elemen yang saling berkaitan. Kepemimpinan (style of leader) adalah cerminan dari karakter atau perilaku pemimpinnya (leader behavior). Menurut Dave Ulrich kepemimpinan yang berhasil diabad globalisasi adalah merupakan perkalian antara kredibilitas dan kapabilitas.”
Kredibilitas, mempunyai ciri-ciri pada seorang pemimpin baik kompetensi- sifat, nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang bisa dipercaya baik oleh bawahan maupun oleh lingkungannya. Yaitu kredibilitas pribadi yang ditampilkan pemimpin dengan mempunyai kekuatan keahlian (expert power) juga adanya moral character. Sedangkan kapabilitas, kemampuan pemimpin dalam menata visi dan misi, stategi dalam mengembangkan sumber-sumber daya manusia untuk kepentingan memajukan organisasi dan atau wilayah kepemimpiannya (dalam hal ini adalah pemerintahan).
Namun, kedua aspek itu akan dianggap tidak sempurna tanpa adanya aspek integritas. Sebab seorang pemimpin akan mudah terjemurus dalam sifat sewenang-wenang dan penyelewengan moral, ketika integritas itu hilang dalam diri pemimpin. Aspek terakhir inilah yang sering disebut sebagai kepemimpinan moral. Rendahnya kepemimpinan moral dianggap penyebab keterpurukan dan sulitnya bangsa ini untuk lebih maju dan bermartabat.
Dalam Islam seorang pemimpin ideal adalah pemimpin yang memiliki sekurang-kurangnya 4 (empat) sifat dalam menjalankan kepemimpinannya. Yaitu, Sidiq (jujur) dapat dipercaya, Tabligh (penyampaian) kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi, Amanah (bertanggung jawab) dalam menjalankan tugasnya, dan terakhir Fathanah (cerdas) dalam membuat perencanaan, visi, misi, strategi dan mampu untuk mengimplementasikannya. Dengan prinsip keadilan (al-'Adl) dan musyawarah (Syura').
Dan menurut survey yang sudah dilakukan oleh LRI yang merekam kriteria pemimpin yang diharapkan rakyat. 84 persen responden memilih kejujuran, disusul ketegasan 71 persen, dapat dipercaya 62 persen, konsisten 44 persen dan mempunyai integritas 28 persen. Kejujuran menempati tingkat pertama yang harus ada dalam jiwa pemimpin. Prinsip atau kriteria kepemimpinan ini, seyogyanya menjadi landasan rakyat Indonesia dalam memilih pemimipinnya.
Satu dari tiga pasangan capres-cawapres pilpres 2009 nanti. (Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, Megawati Soekarno Putri-Prabowo Subianto, dan Yusuf Kalla-Wiranto) yang akan memimpin bangsa ini kedepan. Membaca dan memahami ketiga pasangan tersebut, yang mempunyai keunggulan dan relatif dari segi kriteria adalah kunci bagi kepemimpinan nasional menjadi lebih baik. Bagaimanapun juga arah bangsa dan negara, hitam atau putihnya bangsa kedepan ada ditangan para pemimpin nasional yang terpilih. Di era demokrasi sekarang ini, masa depan bangsa ada ditangan kita (rakyat) yang punya otoritas untuk memilih, inilah tugas rakyat Indonesia pada pilpres 2009 nanti.
Maknai pemilu 2009 sebagai upaya menuju perubahan, bukan sebagai arena untuk berlomba mengejar kekuasaan dan rutinitas proses sirkulasi elit politik semata. Tapi jadikan pemilu dengan sistem multipartai ini sebagai media dalam memilih figur-figur pemimpin nasional yang kita harapkan. Sehingga berangkat dari pandangan positif inilah kita tangkap esensi dari pemilu yang kita laksanakan, bukan sekedar hanya membangun koalisi demi kekuasaan.
Ketika kulihat kehidupan dalam jiwa maka aku katakan ”itulah cinta dan
keindahan” Cinta merupakan dasar dari kehidupan dan keindahan adalah buah
dari kehid...



Tidak ada komentar:
Posting Komentar