22 November 2008

INTEGRITAS ILMU KEISLAMAN DALAM MENGGAPAI KESUKSESAN SEJATI

INTEGRITAS ILMU KEISLAMAN
DALAM MENGGAPAI KESUKSESAN SEJATI
“Antara tasawuf dan syari’at”
Oleh : Endin Saefuddin

Tasawuf yang merupakan mistisisme mungkin tampak sangat tidak bersifat duniawi bagi sebagian besar umat manusia. banyak para sufi dimasa lalu yang sangat menekankan kehidupan batin dengan pencarian akan Tuhan yang terkadang mengabaikan hukum syari'at. Namun walau begitu kebutuhan akan nilai dan makna dalam hidup, perasaan bahwa harus ada sesuatu dibalaik fenomena yang kasatmata, sehingga banyak orang yang tetap mempertahankan keyakinannya dalam satu dan hal yang lain (H.J. Witteveen, Sufism in Action: Achievement, Inspiration and Integrity in a Tough World).
Tasawuf banyak definisi yang diberikan oleh para ulama, namun intinya adalah jalan atau cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Orang yang menempuh jalan ini dikenal dengan nama sufi, dan sufi menurut Dzunnun Al-mishri adalah orang yang lebih mengutamakan Allah SWT diatas segalanya.
Tasawuf yang orientasi keagamaan esoteris dengan karekteristik bertumpu pada pengalaman dan kesadaran ruhani pribadi, (lebih kepada hakikat). Golongan ini mengklaim diri sebagai pengetahuan keagamaan disebut Ma’rifah dan jalan menuju kebahagiaan disebut Thariqoh. (Par excelence) peran tasawuf dalam membimbing kearah hubungan normatif dan otoritatif yang istimewa antara individu dan kosmos.
Sedangkan syari'at adalah peraturan dan undang-undang yang bersumber kepada wahyu Allah. Perintah dan larangannya jelas dan dijalankan untuk kesejahteraan seluruh manusia. Menurut Syaikh al-Hayyiny, syari'at dijalankan berdasarkan taklif (beban dan tanggungjawab) yang dipikul kepada orang yang telah mampu memikul beban atau tanggungjawab (mukallaf). Syari'at ditunjukkan dalam bentuk kaifiyah lahiriyah antara manusia dengan Allah SWT.
Peraturan dan hukum Allah ini menjadi kewajiban umat Islam terutama yang berkaitan dengan ibadah mahdlah (yang berhubungan langsung dengan Allah SWT) Dalam Al-Qur’an difirmankan "Hanya kepada Engkau (Allah), aku beribadah, dan hanya kepada engkau aku memohon pertolongan." (QS. Al-Fâtihah: 4-5).
Dari penjelasan diatas, tidak heran dalam perkembangannya ahli sufi dan ahli syari'at banyak menimbulkan pertentangan, itu tidak lebih karena adanya perbedaan pemahaman dan pandangan tentang keilmuan keagamaan. Yang diantara keduanya sebenarnya sama-sama ingin mendekatkan diri kepada yang maha kuasa. Dan untuk memenuhi kewajibannya (ibadah) sebagai hamba Allah SWT.
Al-Qusyairi membedakan antara syari'at dan hakikat merupakan ciri dari orang sufi sebagai berikut: Hakikat adalah penyaksian manusia tentang rahasia-rahasia ketuhanan dengan mata hatinya. Syari'at adalah kepastian hukum dalam ubudiyah, sebagai kewajiban hamba kepada Al-Khaliq. Syari'at ditunjukkan dalam bentuk kaifiyah lahiriyah antara manusia dengan Allah SWT. Kita paham dengan ungkapan

”Ibarat bahtera itulah syari'at, Ibarat samudera itulah thariqat, Ibarat mutiara itulah haqiqat”
Ungkapan ini menjelaskan kedudukan tiga jalan menuju akhirat. Syari'at ibarat kapal, yakni sebagai instrumen mencapai tujuan. Thariqat ibarat lautan, sebagai wadah yang mengantar ke tempat tujuan. Hakikat ibarat mutiara yang sangat berharga dan banyak manfaatnya.
Artinya hakikat tanpa syari'at menjadi batal, dan syari'at tanpa hakikat menjadi kosong. Dapat dimisalkan di sini, bahwa apabila ada orang memerintahkan sahabatnya mendirikan shalat, maka ia akan menjawab: Mengapa harus shalat? Bukankah sejak zaman azali dia sudah ditetapkan takdirnya? Apabila ia telah ditetapkan sebagai orang yang beruntung, tentu ia akan masuk surga walaupun tidak shalat. Sebaliknya, apabila ia telah ditetapkan sebagai orang yang celaka maka, ia akan masuk neraka, walaupun mendirikan shalat.
Begitu juga halnya dengan syari'at tanpa hakikat, adalah sifat orang yang beramal hanya untuk memperoleh surga. Ini adalah syari'at yang kosong, walaupun ia yakin. Bagi orang ini ada atau tidak ada syari'at sama saja keadaannya, karena masuk surga itu adalah semata-mata anugerah Allah. Syari'at adalah peraturan Allah yang telah ditetapkan melalui wahyu, berupa perintah dan larangan. Thariqat adalah pelaksanaan dari peraturan dan hukum Allah (syari'at). Haqiqat adalah menyelami dan mendalami apa yang tersirat dan tersurat dalam syari'at, sebagai tugas menjalankan firman Allah.
”Barangsiapa yang ingin mendapatkan mutiara di dalam lautan, maka ia harus mengarungi lautan dengan menumpang kapal (ilmu syari'at), kemudian ia harus pula menyelam untuk mendapatkan perbendaharaan yang berada di kedalaman laut, yakni bernama mutiara (ilmu haqiqat)".
Sayyidina Ali RA, mengatakan: Barangsiapa beranggapan, tanpa adanya perbuatan yang sungguh-sungguh, ia akan masuk surga, maka itu adalah hayalan, sedangkan orang yang beranggapan bahwa dengan amal yang sungguh-sungguh dan bersusah payah ia akan masuk surga, maka hal itu sangat sia-sia. Orang pertama adalah mutamanni dan orang yang kedua adalah muta' anni.
Para penuntut ilmu tasawuf tidak akan mencapai kehidupan yang hakiki, kecuali telah menempuh tingkatan hidup ruhani yang tiga tersebut. Menuju kesempurnaan hidup ruhani dan jasmani yang hakiki menuju hidup akhirat yang sempurna, tiga jalan itu hendaklah ditempuh bersama-sama dan bertahap. Apabila tahap-tahap itu tidak ditempuh maka penuntut tasawuf atau mereka yang berminat mencari hidup ruhani yang tentram, tidak akan mendapatkan mutiara yang sangat mahal harganya itu. Dengan pengertian lain, hati manusia shufiyah itu akan ditempati oleh thariqat yang berdasarkan syari'at. Seperti apa yang menjadi ajaran tasawufnya Imam al-Ghazali.
dengan begitu, ditengah-tengah keadaan keislaman yang semakin komplek didalam kehidupan manusia Indonesia, yang tidak sedikit menimbulkan keresahan dan bahkan berbuat radikal demi menjaga kesucian kepercayaannya. Maka integritas dua keilmuan Islam yaitu tasawuf dan syari’at seperti dijelaskan diatas, diharapkan menjadi sebuah pemahaman keilmuan dalam menyikapi persoalan keagamaan selama ini. yang akhirnya dapat terhindarkan dari hal-hal yang sifatnya anarkis. Bahwa semua perbedaan pendapat itu sejatinya adalah hanya ingin mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan hidup baik di dunia ataupun akhirat.

Tidak ada komentar: