22 November 2008

PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN

PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN
Membangun Jiwa Merdeka Mencapai Kemandirian Bangsa
Oleh : Endin Saefuddin

Pada saat suara tidak lagi terdengar, ketika kemerdekaannya (kritisisme) telah dibungkam dan dipasung, daya nalar individu telah disekat oleh sumbat-sumbat ketakutan! manakala bahasa anak-anak dan rajutan makna telah dibonsai oleh monopoli kebenaran dan kapitalisme. Serta ketika kreatifitas dibelenggu oleh kemiskinan.
Maka peran pendidikan sebagai pembebasan jiwa individu terhadap keterasingan. Untuk membangun pencerahan dan pemerdekaan terhadap persoalan sosial masyarakat dan mentalitas individu. Sehingga mampu melihat kendala-kendala mitologi dan mentalitas sebagai akar-akar ketidakbebasan akibat kebodohan dan pembodohan.
Ketertinggalan dan kemiskinan melanda sebagian besar rakyat Indonesia. Realitas ini menjadi bukti konkrit belum maksimalnya peran dan fungsi pendidikan nasional sebagai pembebasan dan pencerahan. Dalam kontek inilah menjadi soal yang harus dijawab oleh stakeholder pendidikan guna menciptakan manusia Indonesia yang berkualitas. Agar mampu keluar dari penjara kemiskinan, yang seakan menjadi borgol abadi rakyat. Sehingga kemerdekaan dalam arti (zelfstanding, berdiri sendiri onafhankelijk, tidak tergantung kepada orang lain dan vrijheid zelfbeschikking dapat mengatur dirinya sendiri, Ki Hajar Dewantara) dapat terwujud.


Pendidikan memerdekakan
Anak-anak bangsa tidak mungkin mampu memerdekakan diri ketika jiwa mereka masih dipenjara dan dibelenggu oleh sebuah sistem yang memaksa. Keadaan ini sulit bagi mereka untuk mengembangkan potensi, malah justru membunuh kreatifitas. Sistem seperti ini akan mengikat dan menghalangi perkembangan sebagai individu yang bebas, dalam menentukan dirinya sendiri dan tidak produktif.
Bukankah semakin besar anak tumbuh maka semakin besar pada dirinya suatu pencarian akan kebebasan dan kemandirian? Kebebasan dengan makna yang berbeda sebelum evolusi tercapai. Artinya bukan kebebasan membati buta tanpa aturan dan norma. Tetapi kebebasan seperti bayi keluar dari ibunya berubah menjadi eksistensi manusia. Keterpisahan ini hanya lahiriyah saja. Namun secara fungsional bayi tetap bagian dari ibunya, ia disuapi, disusui dan di lengkapi setiap kebutuhan oleh ibunya.
Sifat dialektis dalam proses perkembangan anak, dalam istilah Erich fromm disebut individuation, (proses munculnya individu yang terikat erat dengan dunia alamiah dan sosial dimana dia berada) diantaranya mengandung aspek tumbuh kuat secara fisik, emosional, dan mental. Dari ketiga bidang tersebut akan tumbuh intelektualitas dan aktifitas.
Dengan begitu, tugas penting pendidikan nasional adalah mendidik anak bangsa agar tumbuh jiwa merdekanya, mampu memahami karakter dan realitas kehidupamya. Dengan sifat mengayomi dan melindungi. Pengajaran disusun sebagai stimulus untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan kemampuan yang dimiliki. Langkah ini akan berimplikasi pada kematangan intelektual dan aktifitas yang mandiri, sehingga tumbuh jiwa merdeka dalam kehidupannya.
Apabila kepribadian diri yang dimiliki yaitu intelektualitas, kreatifitas dan potensi mandiri dapat terorganisir dan terintegrasikan, bukan sesutu yang mustahil hasil pengajaran yang dilakaukan akan mengahasilkan manusia-manusia yang berkualitas, respon terhadap masalah dan mampu menghadapi setiap problematika yang mengelilinginya. Maka proses individuasi ini harus dibarengi dengan pendidikan, tapi pendidikan yang memerdekakan.
Pertanyaaannya sekarang adalah mampukah para stakeholder pendidikan menciptakan pendidikan nasioanal yang berlandaskan pada kebebasan dan karekteristik bangsa guna menjadi bangsa yang besar dan mandiri? sebab penerapan pendidikan nasional cenderung memaksakan dan membelenggu, membunuh kemerdekaan baik jiwa juga dirinya. Bertentangan dengan nilai-nilai positif kebebasan sebagai makhluk sosial dan independent.
Bukankah pembangunan jiwa yang tanpa kekerasan, kungkungan dan pemaksaan. Melahirkan generasi muda penerus peradaban bangsa yang beradab berjiwa jujur dan bertanggung jawab? Pendidikan yang berlandaskan kemerdekaan juga mampu menciptakan manusia yang berdiri sendiri tanpa tergantung dengan orang lain. Menghasilkan sumber daya manusia yang tangguh. Dengan begitu akan tercipta masyarakat dan bangsa yang mandiri. disinilah pendidikan memerdekakan menjadi sebuah keharusan. untuk membangun bangsa yang merdeka harus melalui jiwa-jiwa yang merdeka pula.

Tidak ada komentar: