Hari Maritim Nasional
Oleh : Endin Saefudin
Sudah saatnya bangsa Indonesia untuk melakukan pembangunan nasional dengan berorientasi dari daratan menuju kelautan. Sebab bangsa yang struktur geografisnya 75% (kurang lebih 3,1 juta km persegi) terdiri dari lautan, dengan ribuan pulau yang terbentang luas. UNCLOS 1982 mengakui eksistensi Indonesia sebagai negara kepulauan, yang mengatur hak dan kewajiban negara kepulauan, antara lain adalah memanfaatkan sumber daya alam yang terdapat di perairan teritorial, zona tambahan, dan ZEE.
Profesor Baharudin Lopa dalam tulisannya Negara Maritim dan Kekayaan Indonesia menegaskan munculnya Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan merupakan kekuatan maritim terkuat di Nusantara pada abad ke-17. sejarah juga membuktikan bahwa kejayaan bangsa kita diwaktu yang lalu berakar di laut. Seperti yang terjadi pada kebesaran kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, sebab dasar pembangunan keduanya berbasis kelautan.
Maka bisa dikatakan bangsa ini memiliki tradisi kemaritiman yang amat kental. Sebut saja misalnya orang Makassar dengan perahu layar Pinisinya, masyarakat Biak Numfor dengan perahu dagang (Way Mansusu) dan perahu perang (Way Ron). Begitu pula orang-orang Buton yang berlayar berbulan-bulan di atas kapal kayu hasil karya mereka. Namun budaya maritim yang sejak lama menjadi kekuatan nenek moyang ini belum mampu menjadi kekuatan bangsa secara maksimal, baik pembangunan ekonomi, politik, pertahanan dan lain-lain.
Bangsa kita belum memanfaatkan laut dengan sebaik-baiknya. Sebagai contoh, peluang pemanfaatan potensi perikanan laut yang begitu melimpah belum dikelola untuk menghasilkan keuntungan ekonomis bagi negara. Dengan luas wilayah perairan yang mencapai 3,2 juta kilometer persegi, ditambah hak atas sumber daya laut di perairan ZEE seluas 2,7 juta kilometer persegi, menghasilkan sekitar 6,7 juta ton ikan setiap tahun. Namun, kenyataannya, ikan hasil tangkapan dari wilayah perairan Indonesia pada umumnya dinikmati oleh pengusaha-pengusaha asing. Mereka memanfaatkan pengusaha dalam negeri, yang sebenarnya tidak memiliki armada perikanan sebagai counter part.
Oleh karena itu, dari jumlah lebih dari 7.000 kapal armada perikanan di Indonesia, 80 persen di antaranya adalah milik asing yang diberi bendera Indonesia. Kita mestinya belajar dari negara-negara tetangga kita yang demikian proaktif di dalam mengusahakan perikanannya, seperti Thailand. Walaupun luas perairannya itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan luas perairan Indonesia, Thailand tercatat sebagai the third largest fishing fleet in the world.
laut adalah bagian dari budaya bangsa. Selama 60 tahun merdeka, kita belum melakukan upaya serius dalam membangun budaya maritim. Budaya maritim sebenarnya telah menjadi budaya bangsa Indonesia, khususnya pada kelompok-kelompok masyarakat yang bermukim di pesisir pantai. Namun, pembangunan yang selama ini cenderung berorientasi ke darat telah memengaruhi eksistensi budaya maritim yang sudah melekat pada sebagian bangsa Indonesia.
Namun potensi Indonesia sebagai negara maritim terbesar ini belum dimanfaatkan secara optimal.. Hal ini ditandai dengan kehidupan sebagian masyarakat yang masih lebih berorientasi pada daratan dibanding lautan, karena kurangnya kesadaran sebagai bangsa maritim yang hidup di Negara kepulauan. Wilayah laut Indonesia dengan potensi sumber daya alam yang sangat besar harus dilindungi dan dikelola secara maksimal demi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.
.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar