| 27/08/2008 09:25:37 Harian Kedaulatan Rakyat Oleh : Endin Saefudin
“Tumerep wong Jawa ing nyadran padha ngirim leluhure dewe-dewe bebarengan menyang sarean utawa kuburan, pada maca Alquran, sak wise iku padha ndonga kanggo ahli kubur jami’il muslimin wal muslimat, kanggo kabeh wong Islam. Muga-muga Gusti Allah paring pangapura, ganjaran saka Allah lumeber menyang pawongan kang ndongaake si mayit. (Badroni : 2004) PADA bulan Ruwah masyarakat Jawa pada umumnya dan khususnya di Yogyakarta mengadakan kegiatan ritual sebelum datangnya bulan Ramadan, tradisi spiritual ini disebut ‘Nyadran’. Upacara keagamaan ini merupakan bagian dari identitas budaya Jawa yang sampai sekarang masih bertahan. Nyadran dalam masyarakat muslim Jawa sebagai kegiatan menyambut datangnya bulan Puasa, juga dalam rangka untuk menghormati dan berbakti kepada para arwah leluhur dengan cara mengirim doa. Dalam nyadran ada perpaduan spiritualitas antara Hinduisme dan Islam. Dalam Hindu misalnya kita kenal dengan konsep ‘Trihitakarana’, menjalin hubungan baik dengan alam atas bawah (Tuhan dan para Dewa), alam tengah (manusia), dan alam bawah (makhluk halus dan tumbuhan) hubungan baik itu dilakukan dengan cara selamatan, bakti puja saji upacara yadnya seperti manusnya yadnya, dewa yadnya, butha yadnya dan lain-lain. (M Hanif dalam Jurnal An Nur Vol II 2005:23). Selain mereka yakin adanya Allah SWT dan Muhammad sebagai utusan-Nya juga tahu adanya kitab Alquran sebagai pedoman hidup, namun selain itu orang Jawa dari golongan ini percaya juga pada konsep-konsep luar, yang tidak ada kaitannya dengan doktrin-doktrin agama Islam pada umumnya. Seperti melakukan ritual-ritual atau upacara keagamaan baik untuk keselamatan, ampunan maupun minta berkah dan lain-lain. Perpaduan ini kemudian disebut dengan Agami Jawi, yaitu varian dari agama Islam Jawa. (Koentjaraningrat Kebudayaan Jawa, 1984). C Geertz dalam bukunya The Religion of Java, mengatakan orang Jawa harus membedakan antara dua buah manifestasi dari agama Islam Jawa yang cukup banyak berbeda, yaitu Agami Jawi, dengan bentuknya adalah suatu kompleks keyakinan dan konsep-konsep Hindu-Budha yang lebih kemistik, yang tercampur kemudian diakui menjadi agama Islam. Dan Agama Islam Santri, lebih cenderung dan dekat kepada dogma-dogma ajaran Islam yang sebenarnya. Namun dalam tulisan ini tidak akan mempersoalkan tentang itu semua, penulis hanya mencoba untuk melihat satu bentuk tradisi Jawa (Nyadran) yang masih dipakai hingga kini, kemudian kita ambil nilai-nilai di dalamnya. Sebab banyak hal unik yang dilakukan dalam upacara Nyadran, di antaranya yaitu masyarakat membuat kue apem yang dikatakan berasal dari kata ‘Afwun. Apem di sini sebagai simbol bahwa pada bulan Ruwah adalah bulan untuk mendoakan dan memohon ampunan yang ditujukan untuk ahli kubur (nenek moyang atau keluarga). Dan ada juga dalam upacara Nyadran masyarakat melakukan ritual menyembelih hewan kambing dengan jumlah ratusan, kemudian dagingnya di makan secara rame-rame, seperti yang dilakukan di Dusun Sendang Pokak Klaten. Tradisi seperti disebut di atas adalah suatu upacara yang sangat penting dalam sistem religi orang Jawa. Pada waktu ini juga makam-makam dibersihkan dan ditaburi bunga-bunga, (nyekar) biasanya dilakukan oleh keluarga ahli waris kuburan tersebut. Dengan maksud untuk memohonkan ampunan kepada Gusti Allah dan menghormati nenek moyang serta minta pangestu (bahasa Jawa), seperti dijelaskan di atas. Ada juga dilakukan secara bersama-sama sebagai wujud kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, walaupun hal ini berbeda dalam setiap daerah. Dalam kepercayaan penganut agama Jawi, aktivitas ini sudah menjadi hal yang tidak terlewatkan, setiap menjelang bulan Ruwah sepekan sebelum Ramadan (sekali dalam satu tahun) pasti dilakukan. Nyadran: Kerukunan dan Keseimbangan Dari tradisi Nyadran dalam pandangan penulis terdapat nilai-nilai penting, pertama kerukunan, sebab upacara ini dilakukan secara bersama-sama dengan sistem kekeluargaan, gotong royong, dan saling berbagi. Nilai ini pada akhirnya akan mewujudkan solidaritas dan kerukunan antarwarga. Kedua, nilai keseimbangan, adalah ada penyadaran bahwa dalam kehidupan pasti ada kematian. Yaitu dengan hikmah diadakan ziarah. Sehingga dengan diadakannya tradisi Nyadran bukan cuma sebagai ritual atau rutinitas semata, tetapi harus mampu memetik nilai keseimbangan dalam mengarungi bahtera kehidupan di dunia yang fana ini, sadar bahwa hidup ini hanya sementara, masih ada kehidupan lagi setelah ini. Dengan begitu maka menjalani kehidupan penuh dengan rasa tanggung jawab sebagai ‘Abid. Dengan menyeimbangkan antara kebutuhan dunia dan kewajiban akhirat. Selanjutnya mengapa Nyadran juga harus dilakukan pada bulan Ruwah menjelang bulan Ramadan? Kita tahu bahwa bulan Ramadan adalah bulan penuh pengampunan (maghfiroh) bulan suci dan mulia dari seribu bulan. Maka umat Islam dalam menghadapi bulan suci ini harus mempersiapkan diri dengan kesucian hati juga, sehingga dalam melakukan ibadah puasa tidak hanya merasakan haus dan lapar tetapi harus mampu mengambil hikmah, mengamalkan kebajikan dan amal saleh. Guna mencapai kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Wallahu A’lam bi Showab. q-o(4360-2008)
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar