10 September 2008

ISRA’ MI’RAJ; ANTARA ILMIAH DAN HIKMAH” (Sebuah renungan)

Oleh : Endin Saefuddin

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjidil Aqsha (Palestina) yang Kami berkahi sekelilingnya, untuk Kami perlihatkan padanya tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Q.S. Al-Isra’:1)

Tepat pada tanggal 30 juli 2008 umat Islam memperingati suatu prosesi perjalanan luar biasa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. yang disebut dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj, seperti yang termaktub dalam kitab suci Al Qur’an surat Al Isra’ diatas. menurut catatan sejarah peristiwa Isra’ dan Mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun kesebelas dari masa kenabian beliau.

Kata Isra’ (dari kata asra) artinya perjalanan di tengah malam, adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Baitul Maqdis di Palestina. Sedangkan Mi’raj (dari kata a’raja) artinya, naiknya Nabi ke Sidratul Munthaha sampai pada lapisan langit ketujuh. Keduanya dilakukan secara kilat melebihi kecepatan cahaya dengan waktu yang sangat singkat (hanya semalam). Sebuah fenomena yang sangat supra-rasional.

Dengan waktu yang relatif singkat (Hanya satu malam) menembus ruang dan waktu, menjadikan peristiwa Isra’ Mi’raj sulit dijangkau oleh akal pikiran manusia. Oleh karenanya wajar jika peristiwa itu banyak diragukan orang-orang Quraisy pada masa Nabi Muhammad. Bahkan Ummu Hani, putri paman Nabi, Abu Thalib, yang malam itu berada di rumah Nabi Muhammad langsung berkata, “Hai Nabiullah, sebaiknya peristiwa tadi malam itu jangan diberitahukan kepada orang-orang, sebab pasti mereka akan mendustakan dan menyakitimu”. Tetapi Rasulullah saw. yang dikenal berjiwa besar sekaligus mendapatkan gelar al-Amin (jujur) itu menjawab, “Demi Allah hal itu pasti akan kusampaikan kepada mereka, apapun akibatnya”.

Maka dengan begitu, dalam kehidupan yang modern ini perlu adanya pembuktian ilmiah sebagai bukti bahwa Isra’ dan Mi’raj Nabi bukan sebuah dongeng atau cerita bohong belaka, tetapi adalah kenyataan dan kalam Allah. Dr. Prof. Quraish Shihab, dalam bukunya Membumikan Al Qur’an, merupakan satu tantangan terbesar setelah al Qur’an disodorkan oleh Tuhan kepada umat manusia. Dari sini membuktikan bahwa ’Ilm dan Qudrat Tuhan meliputi dan menjangkau, bahkan mengatasi, segala yang infinite (tak terbatas) tanpa terbatas waktu atau pun ruang.

Prof Achmad Baiquni MSc, P.hD dalam bukunya Al-Qur'an; Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, mengatakan peristiwa Isra Mi'raj merupakan salah satu mukjizat yang menantang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita sebagai Muslim mengimani peristiwa besar yang disebutkan dalam al-Qur'an itu. Keimanan ini bagi kita yang hidup di zaman modern, bukan lagi sekadar merupakan kepercayaan, melainkan suatu keyakinan yang diperkuat oleh penemuan sains mutakhir.

Pandangan ilmiah

Albert Einstein, (lahir di Jerman tanggal 14 Maret 1879) ilmuwan berbangsa Yahudi (bangsa yang sejak awal menentang Islam). Ia meninggal di Amerika Serikat tanggal 16 April 1955. Sebagai ilmuwan, Einstein telah menghabiskan lebih dari separuh hidupnya selalu bergelut dengan ilmu pengetahuan. Dengan dedikasi dan vitalitasnya yang tinggi, iapun dapat membukakan jalan pencerahan bagi banyak orang. Ia telah menyumbangkan pikiran-pikirannya yang begitu berharga. Menyumbangkan teori-teorinya yang dapat memecahkan banyak teka-teki dan persoalan yang selama ini menyelimuti kehidupan.

Ia berpendapat, perbandingan nilai kecepatan suatu benda dengan kecepatan cahaya, akan berpengaruh pada keadaan benda tersebut. Artinya, semakin dekat nilai kecepatan suatu benda dengan kecepatan cahaya, semakin besar pula efek yang dialaminya, sehingga menimbulkan perlambatan waktu. Perlambatan waktu ini diamati tahun 1941 dalam ekperimen partikel atom berkecepatan tinggi (muon). Dan pada tahun 1971, ketika jam yang amat sangat akurat, diterbangkan dengan cepat keliling dunia di atas pesawat terbang jet, dan setelah dua hari, jam itu berkurang sepersekian detik dibandingkan dengan jam yang sama di permukaan bumi, karena jam itu bergerak lebih cepat.

Kemudian ketika kecepatan benda menyamai kecepatan cahaya, benda itu sampai pada satu keadaan nol. Dan jika kecepatan benda melebihi kecepatan cahaya maka keadaan pun akan berubah bukan lagi perlambatan waktu, tapi justru sebaliknya. (baca : Mahmud, Musthafa, 1981. Einstein dan Teori Relativitas, Cetakan kedua. Al-Hidayah. Jakarta)

Dalam studi tentang sinar kosmis, di antara partikel-partikel yang dihasilkan dari persingungan partikel-partikel sinar kosmis yang utama dengan inti-inti atom Nitrogen dan Oksigen di lapisan Atmosfer atas, jauh ribuan meter di atas permukaan bumi, yaitu partikel Mu Meson (Muon), itu dapat mencapai permukaan bumi. Padahal partikel Muon ini mempunyai paruh waktu (half-life) sebesar dua mikro detik, artinya dalam dua perjuta detik, setengah dari massa Muon tersebut akan meleleh menjadi elektron.

Dan dalam jangka waktu dua perjuta detik, satu partikel yang bergerak dengan kecepatan cahaya (± 300.000 km/dt) sekalipun hanya dapat mencapai jarak 600 m. padahal jarak ketinggian Atmosfer di mana Muon terbentuk dari permukaan bumi adalah 20.000 m, yang mana dengan kecepatan cahaya hanya dapat dicapai dalam jangka minimal 66 mikro-detik. Selama bergerak dengan kecepatannya yang tinggi, mendekati kecepatan cahaya, partikel Muon mengalami efek yaitu perlambatan waktu. (Usman Didi Khamdani)

Begitu juga dengan peristiwa Isra’ Mi’raj, sebuah perjalanan cepat yang melebihi kecepatan cahaya, maka yang terjadi adalah ia kembali kemasa lalu. Namun jika benda bergerak dibawah kecepatan cahaya maka ia akan terlempar kemasa depan, seperti dijelaskan dalam partikel Moun. Dan Nabi ketika melakukan perjalanan Isra Miraj, beliau kembali ke masa lalu, Artinya selama ia melakukan perjalanan Isra’ Miraj, yang sejatinya menghabiskan waktu lama, namun terjadi hanya dengan waktu relatif singkat. Sebab dalam perjalannya Nabi kembali kewaktu awal saat ia berangkat.

Mungkin inilah salah satu bukti ilmiah akan kebenaran Isra’ Miraj yang diperlihatkan Tuhan melalui Einstein. Sebab masih banyaknya yang meragukan kejadian tersebut, terutama oleh kaum empiris dan rasionalis yang melepaskan diri dari wahyu Allah SWT.

Renungan dan hikmah

Namun yang penting dalam mensikapi kejadian Isra’ dan Mi’raj tesebut adalah senada dengan pendapat Kierkegaard (tokoh eksistensialisme) mengatakan ”Seseorang harus percaya bukan karena ia tahu tetapi karena ia tidak tahu”. Juga black Holes menyatakan bahwa pengtahuan manusia hanya 3% saja, selebihnya diluar kemampuan manusia. Dalam al Qur’an Allah befirman ”Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit” (QS 17:85). Bukankah asas ilmu pengetahuan adalah trial and error? Yang membutuhkan percobaan-percobaan (eksperimentasi) atas kejadian-kejadian alam yang membutuhkan tempat dan waktu, tapi Isra’ Mi’raj tidak demikian, sebab terjadi hanya sekali saja.

Coba kita cermati perkataannya Immanuel Kant, seperti yang dikutip oleh Quraish Shihab ”Saya terpakasa menghentikan penyelidikan ilmiah hanya untuk memberikan waktu kepada hati saya untuk percaya”. Dari sini dapat kita tarik kesimpulan bahwa dasar apapun pembuktian ilmiah untuk kebenaran Isra dan Mi’raj, hanya dengan pendekatan iman lah menjadi kunci jawaban atas peristiwa tersebut. Seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar as Shidiq.

Yang terpenting sekarang adalah bukan persoalan ”ko bisa Isra’ dan Mi’raj itu? tetapi coba kita tanyakan kepada hati sanubari masing-masing dengan pertanyaan ”mengapa Isra’ dan Mi’raj? Dengan oleh-oleh intinya adalah perintah ”sholat”. Yang dalam hadits Nabi dikatakan sebagai tiangnya agama, yang mengerjakannya berarti menegakan agama dan apabila meninggakannya berarti meruntuhkan agama. Dalam al Qur’an pun disebutkan Sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar.(al’Ankabut:45). Mari kita buka bersama esensi diperintahkannya sholat. Sehingga kita mampu menggali hikmah dibalik peristiwa Isra’dan Mi’raj. Wallahu ’alam bi shoab.

Tidak ada komentar: