08 September 2008

Dirgahayu ke 63 Radio Republik Indonesia (RRI) EKSISTENSI RRI DALAM LINGKARAN GLOBALISASI

Oleh : Endin Saefudin

Genap 63 tahun usia Radio Republik Indonesia (RRI) sejak berdirinya tanggal 11 september 1945, dua puluh lima hari setelah dikumandangkannya proklamasi kemerdekaan RI 1945. RRI sebagai media siaran era perjuangan sangat besar kontribusinya terhadap kelahiran bangsa ini. Dengan semboyan populernya yang dipekikan oleh salah satu pendiri RRI yaitu M. Jusuf Ronodipuro dengan semboyan populernya “sekali di udara tetap di udara”

Beliau berperan dalam pembacaan teks proklamasi 17 agustus 1945 melalui radio hingga dapat didengar oleh rakyat secara luas, dan direkam sebagai satu-satunya dokumen audio otentik pembacaan proklamasi. Siaran inilah yang banyak didengar orang Indonesia dan dunia untuk mengetahui bahwa Indonesia bebas dari jajahan dan merdeka, lahir sebagai bangsa yang berdaulat penuh. (tokohindonesia.com)

Peran dan kontribusi RRI dalam perjuangan kemerdekaan tidak dapat dilepaskan, dengan suaranya yang lantang dan terus memberikan semangat terhadap rakyat Indonesia dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan.

Namun pada jaman orde baru RRI mengalami penyempitan peran, sebab pada saat itu RRI seakan tidak netral lagi, tetapi kelihatan berpihak kepada rezim yang berkuasa. Ini disebabkan karena RRI yang dari awal sebagai radio publik milik bangsa berubah menjadi radio suara pemerintah, menyimpang dari semangat Tri Prasetya RRI, yaitu tiga butir yang merefleksikan komitmen RRI untuk bersikap netral tidak memihak kepada salah satu aliran, partai atau golongan manapun.

Setelah dikeluarkannya peraturan pemerintah Nomor 37 tahun 2000 yang ditandatangani Presiden RI tanggal 7 Juni 2000 tentang penyiaran, RRI kembali berkiprah sebagai Lembaga Penyiaran Publik yang bersifat independen, netral, mandiri tidak komersial dengan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

Tentunya bukan hal mudah untuk mempertahankan dan merealisasikan itu semua, sebab sekarang ini yang menjadi tantangan besar RRI adalah bagaimana caranya RRI tetap eksis dan dekat dihati masyarakat, seperti dimanatkan oleh peraturan pemerintah No.12 tahun 2005 yaitu memberikan layanan informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, sebagai perekat dan kontrol masyarakat.

RRI dan Tantangan kedepan

Setelah 63 tahun RRI hadir ditengah masyarakat, bukan berarti RRI tetap dicintai pendengarnya seperti pada saat perjuangan, sebab kini sepakat atau tidak sepakat , RRI seakan mulai ditinggalkan pendengar setianya. Dalam era informasi dan teknologi sekarang ini, media siaran semakin mengalami peningkatan yang signifikan, disetiap daerah telah hadir puluhan bahkan lebih media siaran mengudara di angkasa. Sehingga hal ini menjadi tantangan tersendiri buat RRI agar tetap eksis dan dicintai masyarakat. sesuai dengan fungsinya sebagai lembaga Penyiaran Publik. Seperti diamanatkan UU Nomor 37 tahun 2000.

Dengan demikian, RRI dituntut dan ditantang lebih serius lagi dalam melayani dan menghadirkan program-programnya kepada publik. Tentunya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dewasa ini, memberikan nilai positif terhadap perubahan jaman. Tapi jangan dilupakan dalam melakukan perubahan dan terobosan, tetap setia pada Tri Prasetya RRI itu sendiri.

Saya tidak menafikan terobosan positif yang dilakukan RRI belakangan ini, seperti disampaikan oleh direktur utama LPP-RRI pada upacara dirgahayu RRI ke 62 tahun lalu. Yaitu diantaranya RRI telah menjadi pusat kegiatan masyarakat dan penyelenggara kegiatan (event organizer), sekaligus ajang promosi bagi dunia usaha. Meningkatkan kinerja pro 3 (tiga) dengan siaran berita dan dialog interaktif “three-in-one” (audio-video dan teks), antara RRI, TVRI/TV Swasta/lokal dan media cetak.

Siaran budaya RRI juga mengalami peningkatan dengan menetapkan Programa 4 sebagai siaran budaya dan pendidikan, berjaringan secara nasional. Serta sesuai dengan perjalanannya yang punya peran dalam kemerdekaan dan perjuangan, RRI juga telah menghadirkan siaran napak tilas pendiri bangsa, sebagai wujud penguatan nasionalisme dan mempererat persatuan bangsa. Mungkin pencapaian-pencapaian yang sudah dilakukan itu adalah sebuah terobosan yang positif dalam era dewasa ini (RRI Jakarta).

Tapi bukan berarti dengan programa yang sudah dilakukan tersebut, RRI sudah cukup? Masih banyak hal yang harus dilakukan RRI agar masyarakat kembali mau memutar frekuensi radionya kepada gelombang RRI. Hal ini tidak mudah, tapi dengan kerja keras dan komitmen tinggi semuanya bisa terjadi, asal RRI dalam meramu program dikemas dengan kebutuhan masyarakat dewasa ini.

Hal yang tidak boleh dilupakan adalah RRI harus tetap punya karekteristik sebagai jati dirinya. Misalnya menghadirkan program yang relevan dengan nilai-nilai kebangsaan serta mengandung motifasi untuk berfikiran maju terhadap anak muda dan mempertahankan budaya sebagai jati diri bangsa, seperti yang dilakukan pada awal kemerdekaan. Sebab saat ini kebanyakan radio cuma menghadirkan program yang orientasinya hanya berkiblat kepada pasar.

Dengan perjalanannya yang begitu panjang, RRI tentunya dapat belajar banyak dari masa lalu, baik dalam keadaan pasang atau surut. Sehingga dengan begitu apa-apa yang sudah dicapai hanya butuh dipertahankan agar tetap eksis, dan hal-hal yang dirasa merugikan atau kemunduran, tinggal di sempurnakan dan ditambal, sehingga RRI sebagai media siaran publik tetap ada dan hadir ditengah masyarakat serta menemani perjalanan bangsa kedepan.

Dengan begitu, RRI akan tetap terjaga dan tumbuh subur ditengah masyarakat, tidak ditinggalkan pendengar setianya. RRI memunyai tantangan dan peran penting dalam mencerdaskan, mempertahankan budaya dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Serta dituntut menumbuhkan rasa persaudaraan dan nasionalisme ditengah-tengah masyarakat yang sedang dalam gempuran globalisasi dengan baju kapitalisme dan neo-imperialismenya. Sehingga dengan begitu eksistenis RRI akan tetap terjaga dan tidak pudar dihantam ganasnya globalisasi.


Tidak ada komentar: